- Back to Home »
- Cupu-Cupu Cinta (Part 1)
Posted by : Unknown
Tuesday, 21 May 2013
| Sumber gambar : google.com |
Kala itu aku masih duduk di bangku SD, entah apa yang terjadi padaku. Lazimnya anak seusiaku lebih fokus pada bermain, belajar, ataupun bercanda ria dengan para sahabat.
Namun lain denganku, aku sama seperti yang lainnya. Hanya saja aku sudah mengenal jatuh cinta, akupun bingung dengan keadaanku. Jika anak seusiaku menyukai lawan jenis, itu wajar jika hanya sebatas suka. Namun saat itu cintaku sangat menggebu-gebu.
Kejadian itu berangsur-berangsur terjadi hingga aku akhirnya melanjutkan ke tingkat SMP. Saat itu aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Aku sekelas dengan temanku yang cantik, sebut saja Karmen. Dia adalah wanita yang sangat aku sukai, wajahnya yang begitu ayu, kulitnya yg putih, serta parasnya yang cantik membuat semua pria menyukai dia, bukan hanya laki-laki dalam satu kelas saja, bahkan mulai dari kelas 1, kelas 2, hingga kelas 3, semua kenal dengan Karmen. Bersyukur sekali aku bisa sekelas dengannya.
Aku adalah sesosok pria yang pada saat itu lebih dikenal teman-teman pendiam, istilah kerennya cool, tapi bukan cooleheu (istilah sunda)...hehe
Aku mengenal Karmen dengan sangat baik, begitupun Karmen, Bagaimana tidak kenal, pada saat itu aku adalah ketua kelas, dan Karmen adalah sekretarisku. Semua momen disekolah, baik itu mengenai tugas, piket, hingga setiap laporan mengenai apapun kepada guru pasti selalu aku dan Karmen yang menghadap. Itu sudah menjadi tradisi disekolahku kala itu, setiap ketua kelas dan sekretaris menjadi pilar utama pada suatu kelas.
Karena hari terus berganti, dan aku lalui lebih banyak bersama Karmen, hatikupun berubah 180 derajat, yang tadinya menganggap dia teman baik, hingga aku mulai menyukai dia, bahkan mencintai Karmen.
Tapi karena saat itu aku pemalu, pendiam, dan masih cupu, aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku pada Karmen. Aku pada saat itu sadar diri, dengan kondisiku yang seperti itu, Karmen mungkin akan jijik padaku jika seandainya aku tembak.
Oh iya by the way, daritadi aku nyerocos kaya tronton, belum kasih tahu siapa aku. Aku Jay, aku anak pertama dari tiga bersaudara. Aku lahir dilingkungan keluarga dari latar pendidikan, ayahku guru dan ibuku guru. Satu hal lagi, aku tinggal di kota kembang bandung.
Mari kita lanjut ke Karmen. Asal kalian tahu, Karmen sering gonta-ganti pacar, kalau aku hitung semua jariku gk cukup. Ntah kenapa dia bisa seperti itu aku tidak tahu, yang jelas daya pikatnya memang luar biasa. Aku tidak menganggap dia playgirl atau entah apa namanya, karena dia tidak menyakiti pria yang dekat dengannya, hanya saja dia komitmen kepada pacarnya dia tidak ingin terlalu serius menanggapi hubungan cintanya.
Ada suatu kejadian dimana aku dan Karmen terpilih sebagai perwakilan kelas terbaik dalam ajak mojang dan jajaka kelas. Ya itu lah kita, memenangi gelar tahunan yang diadakan saat pentas seni, coba tebak seberapa besar bahagia yang aku rasakan? wuiiihhhh, gk kebayang coy. Bahagia luar biasa, bukan karena juaranya, tapi karena aku berpasangan dengan Karmen.
Tak terasa waktu satu tahun telah berlalu, hingga akhirnya aku beranjak naik ke kelas 3. Namun sikap aku masih saja cupu, pendiam, dan terlalu malu untuk mengatakan kalau aku cinta terhadap Karmen. Sebenarnya ingin sekali aku juga menanyakan bagaimana perasaan Karmen kepadaku.
Apa dia juga menyukaiku sama seperti aku menyukai Karmen, ahhh ini hanya khayalanku saja pada saat itu,mana mungkin Karmen menyukaiku.
Asal kalian tahu, setiap hari Karmen kalau pulang itu naik angkot, dan hal itupun terjadi padaku. Karena saat itu angkot masih ngetren, bahkan kalau saat itu sudah ada twitter mungkin angkot sudah menjadi trending topic, ataupun kalau sudah ada facebook, mungkin sudah ada 1 juta likes.
Saat itu hanya beberapa siswa saja yang memiliki motor, dan itupun sekolah pada saat itu melarang semua siswa membawa kendaraan pribadi, ntah itu motor ataupun mobil.
Saat yang paling menyenangkan adalah, ketika ada momen pulang bareng dengan Karmen, karena kebetulan arah rumah Karmen searah dengan rumahku. Karena rumaku lebih jauh, jadi aku selalu kehilangan ketika Karmen meninggalkanku duluan turun pergi dari angkot.
Karena bagaimanpun momen seperti itu tidak setiap hari terjadi, Karmen punya segudang aktivitas, selain mengurusi cowoknya, dia juga aktif berorganisasi, musik adalah hobinya. Meskipun hobi kita sama, namun Karmen lebih aktif membentuk grup band.
Aku akui, Karmen mahir sekali bermain gitar, meskipun skillnya masih dibawahku, ceeilehhh,,,hehehe ( sombong dibalik udang).
Kita mempunyai inventaris alat musik di kelas, meskipun hanya gitar, tapi cukup menghibur untuk bermain didalam kelas. Tapi ingat jangan pernah membuat gaduh saat teman kelas yang lain belajar.
Hingga waktu ujian nasionalpun tiba, hari-hari dimana waktu aku bersama Karmen hanya tinggal menunggu waktu. hari itu dilalui terlalu sulit, karena selain belajar untuk lulus, pikiranku selalu tertuju pada Karmen. Apakah aku terlalu bodoh untuk membiarkan perasaanku terpendam.
Pagi itu saat ujian akan berlangsung, aku ingat saat itu akan ujian bahasa inggeris. Namun mendekati tes dimulai, aku tidak melihat Karmen, hingga kamipun masuk akupun masih tidak melihat Karmen. Saat itu juga aku mulai tidak fokus dengan semua soal ujian, pikiranku hanya kepada Karmen.
Dari puluhan soal yang ada, aku hanya baru mengisi 3 soal. Bayangkan betapa bodohnya aku, namun 45 menit berlalu tiba-tiba datang sesosok wanita yang begitu membuat aku bersemangat kembali. ialah Karmen, dia datang terlambat, karena saat itu dia harus menjaga ibunya terlebih dahulu, ibu Karmen sakit saat itu, sehingga keperluan dia, adik-adiknya harus Karmen tangani sendiri terlebih dahulu. Oh iya, aku belum cerita, Karmen ini adalah anak broken home, ayah dan ibunya sudah satu tahun bercerai. Entah karena apa penyebabnya, aku tidak tahu. Bukan karena aku tidak care, justru aku tidak pernah dikasih tahu Karmen alasannya. Kalaupun aku bertanya, aku takut melukai perasaanya.
Saat Karmen datang, aku seperti popeye yang habis makan bayam, energiku kembali bugar, dan kembali bersemangat. Begitulah luar biasanya Karmen merubah semangatku, semua soal tiba-tiba menjadi mudah bagiku, tak disangka puluhan soal dapat aku selesaikan dalam hitungan menit. Entah aku memang terlanjur pintar, atau asal-asalan.wkwkwkw
Ujian nasionalpun telah berkahir, sekolah memberi jeda libur beberapa hari untuk siswa beristrahat. Namun libur itu sungguh menyiksaku, karena aku tidak bertemu dengan Karmen. Coba aku tanya, apa kalian pernah merasakan apa yang aku rasakan???disaat kalian menyukai atau mencintai seseorang, namun beberapa hari kalian dipisahkan?apa yang kalian rasakan??
Aku juga belum menjelaskan kepada teman-teman pembaca yang tercinta, yang baik hati dan tidak sombong. Kala itu HP masih menjadi hal yang tabu, belum banyak yang memilikinya. Dari sekian ribu siswa, hanya puluhan siswa saja yang punya, aku dan Karmen termasuk siswa yang belum mempunyainya. Sedih kali ya....hiks hiks hiks
Kalau saat ini, HP bukan barang langka lagi, tapi sudah menjadi kebutuhan, orang rela kehilangan dompet daripada kehilangan HP. Apakah pendapat saya in i betul??.
Sekarang zamannya gadget, mulai dari balckberry, iphone, ipad, android sudah menjamur dimana-mana, gk gaul kalau gk punya HP di zaman sekarang. Apalagi ditambah dengan maraknya fenomena anak Alay.wkwkwkwkw
Kisah ini terjadi pada tahun 2000, bayangkan kejadian tersebut sudah 13 tahun berlalu.
Hari pengumuman kelulusanpun tiba, hal yang paling mendebarkan kedua setelah tak bisanya mengungkapkan perasaan kepada Karmen. Pengumuman itu di tempel di mading sekolah, sebelum melihat hasil, aku fokus berdoa agar aku bisa lulus. Saat aku berdoa, banyak sekali siswa sudah bergembira, melihat teman yang lain sudah melihat hasilnya dan sorak-sorak bergembira, detak jantungku semakin kencang seakan tak sanggup lagi melihat hasil ujianku. Setelah berdoa aku paksakan selangkah demi selangkah mendekati papan pengumuman yang berdesakan dengan siswa yang lain. Akhirnya aku berada didepan papan pengumuman, dan tak kusangka disitu ada Karmen, aku menatap wajah dia dan diapun menatap wajahku, dan berkata "Hai", kata Hai saja bisa membuat aku mabuk kepayang..gubrak...
Akhirnya aku telusuri satu persatu namaku dan nama Karmen, apa yang aku lihat???
"LULUS", aku dan Karmen jingkarak-jingkran mirip cacing kepanasang saking senangnya kami bisa lulus, meskipun nilainya tidak terlalu bagus, namun kami tetap bangga karena bagaimanapun kita berjuang dengan keringat sendiri, tidak mencontek.
Selepas melihat pengumuman, Karmen mengajaku makan siang. Seperti biasa nasi goreng adalah kesukaan Karmen, dan aku memesan soto ayam sebagai santap siangku. Pada kesempatan itu Karmen bercerita banyak hal, termasuk kelanjutan sekolahnya. Jay, setelah kamu lulus akan meneruskan kesekolah mana? kalau aku sepertinya masih di bandung. Sentak pertanyaaan itu membuatku kaget. Lalu akupun menjawab, ya sepertinya akupun di bandung. Aku bercerita-cerita banyak hal saat itu, namun masih saja aku kaku tidak bisa mengungkapkan perasan ini padanya, rahang ini seperti menahan 1 buah duren yang menyangkut ditenggorokan.
Hingga saatnya kamipun selesai menyantap makan siang, dan aku mengantarkan Karmen pulang. meskipun aku dan Karmen pulang bareng, tapi aku tak pernah ikut turun mengantar Karmen pulang, karena Karmen selalu bilang Tidak Usah, nanti kamu bayar angkot dua kali. Bagiku itu tidak masalah, namun Karmen belum mengizinkan aku berkuknjung ke rumahnya. Saat pulang Karmen menitipkan secarik surat untukku. "Tolong baca ini sesampainya di rumah". Begitulah Karmen berkata.
Sesampainya di rumah, tanpa basa basi, akupun langsung naik ke atas kasur dan sambil tiduran terlentang, aku membaca surat yang diberikannya padaku.
Begini isinya.
"Hal terindah yang aku rasakan selama di sekolah, adalah saat aku bersamamu. Hal terindah yang aku rasakan di sekolah, adalah saat berdua denganmu. Dan hal yang membahagiakan dalam hidupku adalah saat tuhan menemukanmu denganku. Hal yang belum aku miliki saat ini, adalah cintamu, kasih sayangmu, bukan sebagai teman atau sahabat, melainkan sebagai kekasihku. Aku memiliki banyak pacar, dan aku tidak pernah serius pada mereka, karena apa?apa kamu tahu kenapa aku tidak pernah serius seperti itu? karena aku ingin kamu yang menjadi pacarku. Aku lelah menunggumu, aku tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku. Apa ini hanya harapanku saja? dari tahun ke tahun aku hanya menunggumu, untuk menunggu bilang kamu "Aku cinta kamu".
Itulah bunyi dari surat dari Karmen, sentak saja air matakupun berlinang, betapa bodohnya aku selama ini, menyia-nyiakan seorang wanita yang pada dasarnya benar-benar aku cintai.
Andai saja Karmen tahu, betapa aku juga sangat mencintai dia, tapi aku sadar semua salahku, semua berkat ketidakmampuanku untuk berkata aku menyayanginya.
Tak kusangka pula, hari itu menjadi hari terkahir aku bertemu dengan Karmen...
....BERSAMBUNG.....