Popular Post

Posted by : Unknown Friday, 24 May 2013

sumber gambar : google.com
Andai saja padaa saat itu aku berani mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada Karmen mungkin semuanya tidak seperti ini. Bisa saja hari ini aku dan Karmen telah menjadi sepasang kekasih, namun semua itu sirna berkat kecupuanku, ketakutanku, serta kegelisahanku untuk mengungkapkan betapa aku cinta padanya.

Saat itu, memang benar-benar saat terakhir aku bertemu Karmen. Setahun telah berlalu, kini aku duduk di bangku SMA, yaitu disaat seorang manusia benar-benar mulai puber. Satu tahun pula aku tidak bertemu dengan Karmen. Bukan aku tidak mencari Karmen, justru aku sudah hampir mati mencari-cari dia. Hampir setiap hari aku cari dan terus mencari Karmen, kepada semua teman SMP ku yang dulu, aku menanyakan keberadaan Karmen, namun tak satupun yang mengetahui keberadaannya. Aku tanyakan pula dimana alamat Karmen, mereka bilang Karmen sudah tidak tinggal di tempat yang dahulu lagi.


Karmen memang sosok seorang yang tidak bisa aku lupakan, mungkin karena memang dia cinta pertamaku. Sampai saat ini aku masih menyadari betapa bodohnya seorang JAY.

Namun aku sadar, sejak saat itu aku mencoba untuk sejenak memfokuskan diri pada belajar, karena bagaimanapun tugas utama sekolah ya belajar, masa memikirkan percintaan terus. betul tidak???

Hari berganti hari, namun tetap saja isi kepala ini penuh dengan  Karmen. Karmen oh Karmen, kamu tuh kaya maling. Semakin ku kejar semakin kau jauh..

Saat itu rasanya, benar-benar ingin rasanya menghentikan pencarianku terhadap Karmen. Bukan karena aku tak sayang lagi padanya, karena aku berfikir biarlah tuhan yang akan memepertemukan aku kembali, entah dimana, pada saat kapan, dan dalam kondisi apa aku tak tahu, semuanya sudah aku pasrahkan.

Yang paling membuat aku geger adalah ketika aku terpilih lagi menjadi ketua kelas, ternyata hal ini berlanjut bukan saja saat aku di SMP namun juga saat aku menginjak bangku SMA. Saat ini aku berada di kelas 1 SMA, dan yang paling membuat aku cetar mebahana adalah aku mempunyai sekretaris yang cantik bernama Karlina, yang entah kenapa perasaan aku padanya biasa saja, namun membuat hatiku penuh dengan guntur, atau mirip seperti barang-barang berjatuhan, tidak karuan.

Dalam hati, aku terus bergelut apakah aku akan benar-benar melupakan Karmen??semuanya benar-benar tidak karuan. Tidak jelas apakah perasaan ini adalah perasaan cinta atau bukan, yang jelas pada waktu itu aku sangat menikmati sekali dengan keadaan aku bersama Karlina.

Semakin hari, entah apa yang merasukiku, bayangan Karmen seperti terus meredup. Semua berganti dengan sesosok wanita yang baru saja ku kenal, yaitu Karlina. Aduh, dalam hati aku bergumam, kenapa aku bisa seperti ini, padahal jelas sekali Karmen adalah wanita yang benar-benar aku cintai.

Meskipun aku dan Karmen tidak sempat merajut kasih, ceilehhhh..kaya benang aja. Tapi yang jelas, aku dan Karmen memang jelas saling mencintai. Apakah aku benar-benar akan melupakan Karmen?

Waktu disekolah banyak kulaui dengan kegalauan, GALAU saat itu belum ngetrend, karena belum banyak anak ALAY saat itu. Meskipun banyak yang mengalami perasaan sepertiku, tapi kami tidak menyebutnya GALAU, entah apa dulu sebutannya, yang jelas kami tidak memikirkan hal itu. Beda dengan zaman sekarang, yang serba sesuatu, bahakan hal kecil sekalipun bisa menjadi hot news, atau trending topic di twitter.

Saat itu mengungkapkan sesuatu sulit, beda dengan sekarang, butuh curhat tinggal buka facebook, bikin tulisan di wall, habis itu banyak deh yang komentar. seperti cemunguddd ea..atau bisa juga Qm suks3S cELAlu ea..yang entah dari planet mana tulisan seperti itu berasal, butuh waktu berjam-jam untuk membaca lalu mencerna maksud dari tulisan-tulisan tersebut.

Atau bisa juga, saat ingin berkicau tentang perasaan, buka deh twitter. Dengan  140 karakter kalian bisa menulis perasaan kalian, meskipun tidak bisa mengungkapkan 100% perasaan kamu, namun bisa menggambarkan kegalauan kamu.

Coba bayangkan dulu, ketika itu tidak ada namanya facebook dan twitter??apa yang aku lakukan?hanya di pendam saja pemirsa..coba pemirsa tebak betapa sakitnya hatiku saat itu..Pernah aku coba menulis perasaan lewat mading, yang ada malah digamparin guru ( sorry just kidding), sayang dulu tidak ada danau di lingkungan sekolah, kalau ada sudah aku kobok-kobok tuh danau sampai keruh sekeruh hatiku.

Ok fine, kita balik lagi ke cerita. waktu berbulan-bulan telah aku lalui disekolah, semakin hari perasaan aku kepada Karlina muncul, mirip seperti awal dahulu ketika aku jatuh cinta pada Karmen. Selama hal itu banyak pula yang telah aku lalui bersama Karlina. Pada dasarnya antara Karlina dan Karmen sangat jauh berda, bagaikan minyak dan air. Jika Karmen lebih tomboy, maka karlina sebaliknya, dia lebih kemayu, lebih sopan dalam menjaga percakapan, bahkan suaranya lebih lembut dari kapas.

Aku sadar betul kedua orang itu, kedua wanita itu, benar-benar membawaku kejurang kegalauan. hadeuhhh mulai lebay.Maaf tapi memang seperti itulah yang aku rasakan. Akhirnya saat itu aku benar-benar memutuskan untuk tidak memikirkan Karmen lagi, biarlah Karmen aku siampan dalam-dalam di hati ini, hingga aku alihkan semua cintaku pada Karlina. Sejak saat itu pula, aku mencoba bermodus ria, dengan mendekati Karmen, agar aku bisa mengenal lebih dalam lagi sosok Karlina.

Ada hal yang tak bisa aku pungkiri saat ini, bahwa aku merasakan kembali jatuh cinta pada seorang wanita sama seperti aku mencintai Karmen, permasalahannya adalah apakah sekarang aku berani menyatakan perasaanku?tetap saja sampai saat ini aku masih snagat cupu untuk menyatakan perasaan, masih sangat naif, serta masih sangat canggung untuk mengutarakan hal seperti itu.

Aku masih teringat ketika aku melakukan kesalahan karena membiarkan wanita yang aku cintai pergi, kali ini kesempatan datang lagi, namun aku masih ragu untuk mengungkapkannya pada Karlina. Aku tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali. Aku tidak ingin kehilangan boncengan tukang ojek, oppss sorry, maksudnya kehilangan Karlina.

Suatu hari di pagi yang cerah di sekolah, seperti biasa aku datang selalu mepet pada jam bel masuk, entah kenapa padahal selalu aku luangkan waktu yang banyak untuk berangkat sekolah, tapi tetap saja nyaris telat terus.

Oh iya pada saat itu, aku masih naik angkot, yah angkot is my life, hehehe
Aku masih tidak diizinkan untuk membawa kendaraan seperti motor ke sekolah oleh ortu, padahal pada saat itu bukan angkot yang menjadi trending topic, tapi motor. Yah itulah bahan yang selalu menjadi perbincangan kaum pria lajang dan bau kencur pada saat itu, heboh bersuara tentang modifikasi motor.

Saat bel akan masuk, aku melihat Karlina duduk sendiri, aku bertanya-tanya, kenapa Karlina duduk sendiri, kemana Karin?Karin adalah temanku, teman Karlina juga, tapi ingat bukan teman Kalian ya. Tapikalau pengen kenalan boleh lah, biar aku yang jadi penghubung.

Ternyata Karin saat itu sakit, dan terpaksa Karlina duduk sendiri, Ah kesempatan bagus ini, kataku dalam hati. Dengan polosnya aku mendekati Karlina, "Bolehkan aku duduk bareng kamu?", Karlina hanya diam sejenak, lalu dengan dinginnya, silahkan Jay. Haduh, betapa indahnya hari itu. Seperti duduk bareng Putri Keraton.

Bukan rahasia lagi, jika teman-teman sekelas memang mengetahui jika aku menyukai Karlina. Semua berkat Eko, ya dialah biang gosip semua itu. Aku menceritakan semuanya tentang perasaanku padanya, namun apa yang terjadi??sungguh kalau saat itu aku bawa jarum, sudah aku kempesin dia.

Eko adalah teman sebangku ku, perawakan eko tinggi dan besar, meskipun begitu aku sangat bersyukur punya sahabat seperti dia, yang penuh dengan solidaritas dan kehumoran.

Saat itu aku mulai intensif melakukan pengenalan lebih mendalam kepada Karlina. Setelah berminggu, terdengar kabat dari teman-teman sekelas jika Karlinapun menyukaiku, alangkah bahagianya aku saat itu. Antara perasaan senang, malu, dan gerogi. semua jadi satu mirip ketoprak.

Terdengar gosip seperti itu, Eko mulai mengompori, memancing, dan memanaskan suasana yang membuatku malu, "Teman-teman, ternyata di kelas ini ada yang saling jatuh cinta", itulah kata Eko pada teman sekelas dengan suara lantangnya yang mebuat satu kelas bersorak. Siapa ko??, timpal salah seorang teman. Kok mukamu merah Jay. Timpal balik salah seorang teman, eh ternyata Karlina juga merah mukanya, Eko mengompori. Serentak semua kelas heboh, dan meledek bahagianya, sungguh tersiksa saat itu, namun jujur saja aku bahagia.

Setelah kejadian itu, aku sering curhat masalah perasaanku pada Eko, mungkin Eko juga sudah bosan mendengarnya. Eko mulai menyarankan agar aku menembak Karlina. Aku juga sebenarnya ingin melakukan hal itu, namun apa daya, semua kecupuanku, rasa maluku, rasa gugupku, mengalahkan semua perasaan yang ingin aku sampaikan pada Karlina.

"Kalau dalam seminggu ini, kamu tidak juga menyatakan perasaanmu pada Karlina, kamu bisa jadi kehilangan Karlina seperti saat kehilangan Karmen.Sebab ada kabar dari kelas lain, bahwa ada yang ingin menembak Karlina dalam minggu ini", itulah kata-kata yang terlontar dari mulut eko untuk mengingatkanku. Saat mendengar kata-kata itu, hatiku kaya gado-gado, antara takut kehilangan dan kegalauan karena takut menyampaikan perasan pada Karlina.


Ingin tahu apakah aku menembak Karlina dalam waktu satu minggu??
Silahkan tunggu Part ke 3.



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Simple Story - Rendy K - Powered by Rendy K - Designed by Johanes Djogan -