Popular Post

Archive for May 2013

Cupu-Cupu Cinta (Part 4)

By : Unknown
sumber gambar : google.com
Tanpa kusadari, akhirnya sampai juga di depan kelas, saat itu juga aku melepaskan genggaman tangan Karlina. Namun ada hal yang aneh pada saat itu, entah kenapa suasana kelas menjadi sepi, semua teman-teman duduk dengan begitu rapi. Padahal biasanya ketika guru belum datang, mereka semua penuh dengan keriuhan, mirip pasar kaget.

Akupun  lalu duduk dengan santainya di samping Eko, saat itu aku belum curiga apa yang terjadi. Namun aku tersentak, terdiam, dan malu luar biasa ketika terpampang tulisan di papan tulis " CIE YANG BARU JADIAN, JAY LOVE KARLINA"

Cungguh, ciyus, dan kalau perlu saat itu aku pengen loncat-loncat kaya spiderman sambil teriak WOOOOWWWWWW. Setelah aku baca tulisan itu, sontak teman-teman sekelas langsung heboh dan kembali suasana kelas mirip pasar kaget, mereka semua menghampiriku juga Karlina, sembari meledek dan memberikan semangka, selamat maksudnya.

Mungkin merahnya darah masih kalah merah dengan mukaku saat itu, namun tidak dengan Karlina. Dia begitu polos, tak ada perasaan malu, tidak ada raut kecemasan, seakan-akan Karlina sangat menikmati sekali apa yang terjadi, berbeda denganku yang notabennya memang pemalu, cupu, serta kurang percaya diri yang seakan-akan yang terjadi pada saat itu akan membuat aku mati di usia muda.

Ekopun mulai mendekati, dan kemudian dengan perut badaknya menabrakan diri padaku. "Selamat Sob, gak nyangka gue, gitu dong itu baru RUARRR BINASA". Akupun lalu memeluk Eko, mirip tokoh teletubis yang sedang berpelukan. Thank ya Bro, makasih udah mau menjadi sahabat terbaik gue.

Keriuhan yang terjadi tiba-tiba menjadi hening ketika Pak Amir datang untuk melanjutkan pelajaran Matematika. Ketika pelajaran berlangsung, bisa dikatakan aku mirip orang gila, hanya senyum-senyum sendiri, bahkan sampai-sampai semua pikiranku kosong dan aku isi semua dengan Karlina.

Andai saat itu ada jin yang melintas, mungkin aku sudah kerasukan, namun aku ikhlas jika aku kerasukan cintanya Karlina. Aheuyyy deudeuhh. Memang betul, pacaran itu membuat semua yang tidak mungkin menjadi mungkin, apa yang tidak ada menjadi ada, dan yang tidak bisa menjadi bisa, itulah CINTA meskipun hanya satu kata tapi bisa merubah dunia.

Bisa dipastikan semua pelajaran yang diberikan Pak Amir, 100% tidak ada yang masuk ke otakku, bagaimana bisa fokus, jika yang terisi dalam ingatanku hanya Karlina, Karlina, dan Karlina. Aku bertekad untuk mengulang pelajaran matematika di rumah. Itulah contoh yang baik adik-adik, belajar itu harus selalu dilakukan tidak hanya disekolah, bahkan dirumahpun kita harus belajar, betul tidak?

Jam pulangpun akhirnya datang juga, aku mulai mengemas semua peralatan, akupun sesekali melihat Karlina yang sedang mengemas peralatan sekolahnya juga. Perasaan malu ini, tetap saja tak hilang-hilang, gugup, kecemasan, serta ketidak percaya dirian ini membuat aku takut mendekati Karlina. Yah, akhirnya aku mendekati Karlina dengan perasaan yang mengguncang kutub utara, Hi Karlina, kamu pulang sendiri atau dijemput? Aku dijemput bapak aku Jay, kalau kamu Jay pulang sendiri atau dengan siapa? Aku pulang sendiri, tadinya aku mau ajak kamu pulang bareng. Ya udah aku antar kamu ke depan,. Iya Jay hayu.

Sebenarnya ingin sekali aku mengantar Karlina pulang, namun saat itu keadaan belum memungkinkan untuk aku bisa jalan bersama Karlina, namun aku tak khawatir yang jelas saat ini diakan pacarku. Akhirnya ayahnya Karlina datang dengan menggunakan motor, sambil aku menatap Karlina, aku mengucapkan, hati-hati ya sayang?sungguh malu aku mengatakan hal itu, namun aku terkaget ketika Karlina mengucapkan kata-kata yang paling indah seumur hidupku, "ya sayang kamu juga y". Jikalau embun pagi dikenyot sapi, dan mawar merah di gendong bayi, bolehlah ku daki gunung tertinggi sambil ngesot pakai dasi. Ok, cukup kabuh lagi.

Namun tak seperti yang aku bayangkan, kegelisahan, kecupuan, serta rasa ketidakpercayaan diriku malah semakin tinggi. Entah kenapa perasaan ini datang lagi, aku tak ingin semuanya menjadi kacau gara-gara ulahku lagi, apa aku memang ditakdirkan untuk pergi mengejar kitab suci ke barat? Ah entahlah yang jelas hatiku menjadi carut marut kembali.

Setiap malam yang aku bayangkan adalah, perasaan malu, malu inilah, malu itulah, canggung inilah canggung itulah, semuanya bertambah gugup ketika memikirkan Karlina. Itulah yang selalu aku bayangkan, ketakutan ini membuat aku ingin sekali menjauhi Karlina, bukan karena aku tidak menyayangi Karlina, namun aku menjadi terlalu malu, gugup, grogi untuk mendekati Karlina. Padahal dalam hati ini, ingin sekali akau jalan bersamanya, memegang tangannya kembali, bahkan memeluknya. Rasa sayangku yang besar terhadap Karlina tak mampu mengalahakan kerasnya jubah robocop. Maksudnya mengalahkan rasa maluku, rasa gugupku akan kehadiran Karlina.

Esokpun tiba, hari kedua dimana aku dan Karlina merajut kasih. Namun semuanya tidak berjalan dengan lancar, pacaran indah yang aku harapkan, indahnya perisitiwa disaat kami melalui semua berdua, namun semua itu tidak terwujud, tidak lain dan tidak bukan karena seorang Jay yang masih cupu, dan pemalu. Memang aku mempunyai cinta yang luar biasa, menembak Karlinapun aku udah susah payah menyatakannya. Ternyata rintangan terbesar yang aku alami adalah bukan hanya saat akan menyatakan perasaan pada Karlina saja, namun setelah aku resmi berpacaran dengan Karlinapun perasaan malu ini tetap saja ada, malah semakin menjadi-jadi.

Hari itu, dari awal masuk sekolah hingga pulang, tak aku tanya sedikitpun Karlina. Aku merasa menyesal telah melakukan hal itu pada Karlina, namun bagaimana lagi aku sendiri bingung atas apa yang terjadi pada diriku, entah sampai kapan aku menjadi orang yang penuh dengan kecupuan, penuh rasa malu, atau kegugupan. Aku merindukan Karlina, sangat merindukan sekali.

Pada saat itu, HPatau Hand Phone mulai merebak seperti virus H5N1. Hp menjadi trend kala itu, hampir satu sekolah mempunyai hp, tak terkecuali karlina, mungkin bisa jadi untuk tranding topic saat itu ialah hp, mulai dari tukang beca, supir angkot, penjaga sekolah, bahkan petugas kebersihan sudah memiliki hp. Mungkin hanya aku saja yang belum mempunyai hp, bukan orang tuaku tak sanggup membelikannya untukku namun karena aku disarankan untuk fokus belajar terlebih dahulu.

Andai saat itu aku punya hp, mungkin saat ini aku bisa mengungkapkan perasaanku pada Karlina, tanpa harus mengucapkannya langsung. Andai saat itu aku punya hp, mungkin saat ini menara pisa di francis akan lurus. Tapi dulu belum ada namanya blackberry, yang bisa bbman, bukan bbm bahan bakar minyak, tapi blackberry mesengger. Andai dulu hp hitam putih bisa PING!!!PING!!!PING!!! Hatiku mungkin tak sepi lagi.

Andai dulu hp hitam putih bisa membuat PM, mungkin akan ada yang banyak meberikan komentar padaku. Dengan menggunakan emoticon yang unyu-unyu, pasti akan membuat hatiku tambah gembira. Andai dengan hp hitam putih bisa brodcast message, aku mungkin sudah banyak dilempar orang saat itu. hehehe

Haripun  berlalu seperti biasa, sudah hampir satu bulan aku tak bertanya Karlina, aku lihat Karlinapun mulai bingung dengan keadaanku, dia mulai mencari tahu apa yang terjadi padaku. Melalui Eko, dia sering curcol mengenai perasaannya.

Sob, jangan berlaku seperti itu sama Karlina, kasian dia. Sebulan ini, Karlina sering cerita ma gue tentang hubungan kalian, apa yang sebenarnya terjadi. Lalu aku menjelaskan semuanya kepada Eko tentang apa yang aku rasakan. Aku ceritakan pada dia, bahwa aku mengalami gejala yang sama ketika gajah memangku semut, dan keledai mengendong paus. Serius nih sob, ungkap Eko. Iya sob, gue ngerasa tingkat kepercayaan diri gue semakin menurun drastis, ternyata cobaan terberat dalam mendekati wanita bukan saat mengungkapkan perasaan padanya saja, justru saat telah meilikinya. Aku semakin gugup, semakin malu, jangankan untuk mendekat berbicara saja seakan keselek paku.

Aku sangat mencintai Karlina, aku pula sangat menyayanginya. Tak ingin aku menyakitinya, aku begitu merindukan dia. Setiap malam, setiap hari aku selalu melihat dia, selalu memikirkannya, aku benar-benar rindu sekali dengannya . Padahal faktanya, aku tinggal dekati saja Karlina, tinggal aku berbincang dengannya, lalu aku mengatakan rindu yang selama ini aku pendam, atau bahkan bisa saja aku genggam tangannya. Namun itu tak semudah yang aku pikrikan.

Lantas Ekopun menceritakan semua yang aku ceritakan padanya Karlina. Entah apa reaksi Karlina saat itu, yang jelas aku takut, aku tak ingin menyakiti Karlina, namun harus aku akui kalau es durian itu enak, ditambah toping coklat yang enak, disiram susu kental manih makin lezat, semuanya pasti habis aku lahap. Kok jadi aneh gini ceritanya, mari kita bobo. Cerita lagi maksudnya, setalah Eko menceritakan semua pada Karlina, akhirny Eko menceritakan semua padaku. Sebenarnya aku tidak enak sama eko, meskipun Eko mirip kotak surat, namun seharusnya aku sendiri yang harus menyampaikan  perasaan ini pada Karlina. Karena bagaimanapun ini masalahku, dan aku pacar Karlina.

Haduh sob, untung loe punya cewek yang bae, pengertian, sabar ngadepin loe, kurang apalagi coba dia. Mulai sekarang jangan cuekin Karlina lagi. Kasian dia, dia terus nanyain loe, gw tahu loe sangat menyanginya dia, tapi sayang doang gk cukup buat nunjukin kalau loe benar-benar butuh dia.

Thanks ko, mulai sekarang gue akan berusaha, gue mau berubah, gue akan lakuin semampu gue untuk tidak lagi gugup pada Karlina. Pernah suatu ketika, saat jam makan siang, aku melihat Karlina bersama Karin sedang akan pergi ke Kantin, dan disaat itupula aku sedang sendiri berjalan mendekati kelas, aku pikir saat itu aku akan berpapasan, dan aku berharap juga demikian. Namun apa yang terjadi, saat itu juga detak jantungku mulai seperti konser musik, kalau perlu pecahkan saja gelasnya biar ramai. Saat dimana ada titik persimpangan, maka tak sadar tubuh ini mebelokan arah ke arah yang lain menjauhi Karlina, haduh betapa bodohnya aku. Kapan lagi aku bisa menyapa Karlina, kapan lagi aku bisa melihat senyumnya dari dekat, namun semua itu menjadi hancur karena ulahku lagi. Aku sadar saat itu mungkin Karlina marah, cemberut, atau bahkan siap-siap gali lubang buat ngubur aku hidup-hidup.

Sudah aku putusakan, aku harus berubah. Mulai besok aku tidak akan mencuekan Karlina lagi, aku akan menjaganya, bukan menjauhinya, aku kan menggenggamnya bukan melepasnya. Tak terasa hari sudah pagi, kusiapkan semua keperluanku, hal yang membuat aku bahagia adalah, saat ini kepercayaan diriku tumbuh kembali. Mungkin ini sugesti pada diriku sendiri, kalau aku harus berubah, tak perlu malu jika kita mencintai seseorang, tak perlu malu untuk mengungkapkan perasaan, justru malulah ketika kita tidak mempunyai perasaan atau hati yang peka.

Tibalah aku disekolah tercinta, saat itu aku melihat Karlina sedang berbincang pada Karin. Aku melemparkan senyum terindahku pada Karlina, dan Karlinapun membalasnya dengan tebaran senyum yang paling indah pula. Kurasakan hari itu pasti akan indah, namun ternyata, kodok di sawah berkata lain.

Tiba-tiba Karlina mendekatiku, duduk disampingku. Sungguh aku bahgia sekali, bagaimana tidak, seseorang yang aku cintai mendekatiku, meberikan senyumnya."Apa kabar Jay?,Kamu sehat?". Oh iya Kar, aku baik, kalau kamu gimana?. "Aku juga baik Jay. Baik di luar, tapi tidak di dalam.", Karlina sambil meletakan tanganya di dadanya yang secara tidak langsung menunjuk ke hatinya.

"Aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu Jay, aku cinta sama kamu, aku juga sayang sama kamu, aku tak tahu lagi harus sampai kapan aku menunggu kamu. Aku memang pacar kamu, tapi kenyataannya aku ini orang lain bagimu, hari-hari aku lalui dengan kekonyolan, memikirkan bahwa dengan bersamamu hariku jauh lebih baik. Namun kenyataannya, tidak ada bedanya sebelum aku pacaran, buat kamu aku ini antara ada dan tiada". Dengan tetesan air matanya, Karlina mengucapkan "Mulai sekarang kita berteman kembali, ya seperti dulu lagi, karena buat aku pacaran dan tidak, sama saja. Kita putus Jay."

"Aku memang salah salah sama kamu Karlina, aku juga banyak nyakitin kamu. Tapi jujur tidak ada niat aku untuk menyakiti kamu dengan mencuekan kamu. Sungguh aku juga mencintai kamu, menyayangi kamu. akupun  tersiksa, tersiksa tak bisa mengutarakan semuanya padamu Karlina. Aku mohon, jangan tinggalkan aku, mulai sekarang kita coba lagi dari awal, aku akan berusaha untuk menjadi laki-laki yang pemberani, yang bisa menjaga kamu, ada disaat kamu butuhkan. atau apapun yang kamu mau".

"Tidak Jay, keputusan aku sudah bulat. Aku harap kamu bisa menerimanya, mulai sekarang LOE GUE END".

"Aku sadar, aku salah, aku terima jika itu yang kamu mau. Aku minta maaf atas semua luka yang sudah aku beri padamu, tapi percayalah aku sangat menyayangi kamu Karlina. Aku harap kamu bisa maafin aku, meskipun aku dan kamu sudah tak lagi bisa bersatu, setidaknya kita bisa berteman baik. Sekali lagi maafin aku."

"Iya Jay, maafin aku juga ya. Jikalau nanti kamu mencintai seseorang lagi, tolong jangan lakukan dia seperti aku. Sakit rasanya bisa dicintai seseorang, namun tak pernah dianggapnya ada."

Hari itu, yang tadinya akan menjadi hari bahagia sedunia, malah menjadi hari GALAU NASIONAL. Ingin rasanya aku menangis, namun aku tak bisa. Hatiku hancur, untuk kedua kalinya aku ditinggal pergi orang yang aku cintai. Hari itu seketika aku menjadi lemas, lesu, dan tak berdaya. Sampai-sampai aku ceritakan masalah ini pada Eko, namun Ekopun tak percaya.

Semuanya berakhir begitu saja, untuk kedua kalinya aku melakukan kebodohan yang sama. "Udah cuy, ikhlasin aja, biarkan dia pergi daripada terus-terusan nahan sakit dari loe". Ia ko, gue juga merasa bersalah banget, meskipun gue tak ada niat buat nyakitin dia, namun gue sadar gue udah nyakitin dia.

Sejak saat itu hatiku sangat galau, berhari-hari aku lalui sekolah tanpa semangat. Tiap hari aku hanya bisa melihat Karlina dari bangku kelas, aku selalu menyempatkan mencuri pandangan pada Karlina. Jujur aku masih mencintai Karlina. Namun aku liat, setelah putus dariku Karlina kembali bersinar, meskipun tak menerangi hatiku lagi, setidaknya sinar senyumnya bisa membuat aku bahagia.

Namun aku bahagia, untuk sekarang, aku tak pernah canggung lagi menyapa Karlina, kami selalu saling melempar senyum. Sungguh membuat aku berdebar-debar kembali. Aku sadar, aku tak mungkin kembali bersama dengan Karlina, aku tahu bagaimana perasaannya saat ini.

Akhirnya, sejak saat itu aku memutuskan untuk menjadi teman baik, bahkan bisa jadi sahabat baik. Selama satu tahun kami duduk di kelas 2, banyak hal pula yang aku lewati bersama Karlina, entah itu mengerjakan tugas kelompok, olahraga bersama, mengerjakan piket sekolah, semua kulalui bersama-sama. Saat itu aku sadar, sedikit demi sedikit perasaan ini telah mulai memudar.

Hari demi hari, hariku terasa ringan, mungkin karena sekarang aku dan Karlina sudah tak canggung-canggung lagi, meskipun kita sekarang hanya sebatas teman, namun itu semua sudah cukup bagiku. Aku sangat menikmati kondisiku sekarang ini, aku bisa leluasa berbincang dengannya, aku bisa leluasa menatap wajahnya, aku bisa leluasa memberikan senyum padanya. Ya semua itu terasa ringan sekali bagiku, tak ada kegalauan sedikitpun.

Tak terasa pula waktu berganti, satu tahun duduk di kelas dua pun akan segera berakhir. Saat itu siswa-siswa disibukan dengan pemilihan jurusan, bukan jurusan kampung rambutan atau grogol. Namun jurusan pelajaran yang akan dikhususkan, seperti IPA dan IPS. Saat itu aku sudah memiliki pilihan yang tepat, aku memilih IPA sebagai ilmu major yang akan aku tempuh. Karena aku sangat menyukai sekali program-program exact.

Namun untuk masuk kedalam program IPA, aku harus terlebih dahulu bersaing dengan teman-teman yang lain. Maklum saja peminat jurusan IPA sangat banyak. Jadi aku harus lulus seleksi terlebih dahulu untuk menempuh program IPA. Namun sayang sahabatku Eko, dia tidak mempunyai minat yang sama denganku, karena dia lebih memilih program IPS ketimbang IPA. Tak ada salahnya sih, semua siswa berhak menentukan pilihan, selama haji sulam belum naik haji untuk ke empat kali, dan selama cinta fitri belum sampai season 8, semua siswa berhak masuk program manapun.

Sob, apapun yang terjadi, kalaupun loe nanti masuk beneran masuk IPA, dan gue masuk IPS. Loe tetep sahabat gue, jaga silaturahmi kita ya. Itulah kata-kata Eko yang membuat hatiku sedih. Saat itu pula kami kembali berubah menjadi teletubis. BERPELUKAN!!!!

Apa aku berhasil masuk program yang aku inginkan?lantas apa yang terjadi padaku setelah itu??tunggu di part selanjutnya...



Cupu-Cupu Cinta (Part 3)

By : Unknown
sumber gambar : google.com
Semenjak mendengar kata-kata yang Eko ucapkan, akhirnya dalam satu minggu itu aku menjadi gelisah, mirip cacing kepanasan. Disatu sisi aku takut kehilangan Karlina, di sisi yang lain akupun terlalu takut untuk mengungkapkan perasaanku pada Karlina. Aku tak ingin kejadian yang dulu terjadi lagi.

Akhirnya setelah lama aku merenung, telah aku putuskan untuk menyatakan perasaanku pada Karlina. Aku memilih hari rabu untuk aku ungkapan perasaan ini yang sangat menyakitkan bila terus dipendam. Tak lupa aku selalu bercerita kepada Eko tentang perihal rencanaku ini, Eko hanya bisa mendukungku dan menyemangatiku. Kalau perlu gue bawa superter bola biar rame nanti, itulah kekonyolan Eko.

Ekopun mulai menakut-nakuti jika tidak bergerak cepat, maka Karlina akan dilibas orang. Jangan gitu dong cuy? parah loe ma gue. Kejam nian dikau padaku. Sahut aku saat itu, dan Ekopun menimpali balik,  makanya ayo lekas bergegas man. Sebelum dragon ball jatuh ketangan musuh, dan mengabulkan semua keinginannya, lebih baik loe segera ambil tindakan besok.Sip bro,  Okkelah Kalou Beeggitooo.

Hari yang ditunggupun tiba, dengan segenap perasaan menggetarkan, aku melangkah demi selangkah ke dalam kelas. Aku terlalu takut untuk melihat Karlina. Awalnya aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku sebelum kelas di mulai, namun Karlina terlalu mepet kedatangannya dengan jam bel masuk kelas. Ya sudahlah aku pikir saat itu, jadi aku ke plane B. yaitu saat makan siang.

Saat jam pelajaran dimulai, dengan secarik kertas aku tulis dengan penuh goncangan, seperti goncangan tubulensi pada pesawat. Hatiku tak karuan hanya untuk menulis "Karlina mau gk makan bareng sama aku?", hanya kata seperti itu saja membuat aku tepar seperti orang stroke. Bagi adik-adik ingat, perbuatan ini jangan di contoh, Okay???fokuslah pada pelajaran, ketidakfokusan terjadi bukan saja karena ada niat, tapi karena ada kesempatan dan ada target yang mengalihkan, jadi waspadalah, waspadalah!!!

Aku berilah secarik kertas itu pada Karlina melalui Eko. "Karlina, ini ada titipan dari Jay", oh iya ko, makasih ya. Tak lama berselang, aku melihat Karlina membuka secarik kertas yang aku tulis. Karlinapun diam sejenak, sambil memfokuskan diri pada pelajaran. Aku tunggu selama 30 menit, namun Karlina tak bereaksi apa-apa.

Hatiku mulai gundah dan galau, apakah aku ditolak?tanya diriku dalam hati, apakah karlina tak ingin pergi bersamaku. Kegelisahanku membuat banyak spekulasi negatif yang tak karuan muncul dalam pikiranku. Andai ketombe tidak hanya tumbuh di rambut, dan andai lebah tidak menghisap madu, mungkin aku tidak galau. Sorry coy, udah mulai ngaco nih, jangan di ambil pusing. Mari kita lanjut ke cerita.

Harapanpun datang, ketika aku melihat Karlina menulis kata-kata disecarik kertas yang aku berikan padanya. Bukannya bahagia, hati ini malah semakin Alay. Haduh, apa ya jawabnya, terus saja benak ini bertanya-tanya apa jawabannya. Akhirnya Karlinapun memberikan suratnya padaku melalui Eko pula, "Ko sampaikan lagi ini pada Jay".

Heh Kacrut, please hentikan ini semua, gue mau belajar. Silahkan loe kirim via pos aja. Itulah kata-kata Eko yang mebuat aku tertawa terbahak-bahak, semakin gemas saja aku dengan Eko, apalagi dengan perut buntalnya. Ok coy, sorry, thanks ya.

Kubuka perlahan-lahan secarik kertas yang Karlina berikan padaku. Eng ing eng, silahkan gosok untuk melihat hadiah yang akan diperoleh. Ngaco lagi, hadeuh!!

Ternyata begini pemirsa isinya "Boleh". Ya hanya kata itu yang Karlina tulis, padahal yang aku lihat Karlina seperti menulis kata-kata atau kalimat yang panjang, akupun bingung kenapa jawabannya hanya "BOLEH" saja.

Tapi tak apalah, yang jelas kata itu memberikan banyak sekali kebahagiaan bagiku. Hanya kata "BOLEH", bisa membuatku cenat-cenut. Aku girang bukan kepayang, alangkah senangnya hati ini. Satu kata, namun memberikan banyak arti.

Jam makan siangpun mulai mendekati, dengan panah yang aku siapkan, aku akan dengan hati-hati menembak sasaranku. Bel pun berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai dan giliran untuk makan siang. 

Akhirnya perlahan tapi pasti aku mendekati Karlina, dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhku, aku menghampiri Karlina dengan sesak napas. Hai Karlina, kita makan sekarang yuk?tanya aku pada Karlina. Hayu, mau makan dimana Jay? tanya balik Karlina padaku. Lalu aku merekomendasikan untuk makan di kantin Bu Hajah.

Kamipun melangkah bersama menuju tempat persinggahan untuk mengisi perut yang sudah kosong. Sepanjang perjalanan menuju kantin, terasa berat sekali langkahku seperti memakai sepatu yang terbuat dari baja 2 ton. Ditambah dengan suara detak jantung yang tak karuan begitu gugupnya berjalan dengan Karlina. Padahal jarak antara kelas kami dan kantin dekat, namun seperti menepuh perjalanan 300km.

Ah, sampai juga akhirnya. Mau makan apa Karlina?biar saya yang pesan. Nasi goreng saja Jay. Okay, aku pesan dulu ya. Sambil menunggu masakan, akupun memulai mengajak pembicaraan dengan Karlina, tak seperti yang diharapkan, kegugupan ini membuat setiap ucapan yang keluar dari mulut ini terbata-bata, tak mampu berucap lantang dan teratur. Ingin sekali aku jedotin ini mulut ke tembok, namun tak apalah yang penting aku sudah bersama Karlina saat ini.

Ternyata yang memesan nasi goreng bukan kami saja, ternyata banyak juga yang memesan, sehingga kamipun harus menunggu lama untuk bisa menyantap nasi goreng Bu Hajah yang nikmat. Tadinya sambil bersantap aku ingin mengutarakan perasaanku pada Karlina, namun rencana itu berubah ketika negara api menyerang dan menghancurkan desaku. sorry ngaco detected.

Jika aku menunggu nasi goreng pesanan kami datang, itu akan menyita waktu, sedangkan jam pelajaran hanya tinggal 30 menit lagi. Maka sudah aku putuskan untuk mengutarakan perasaanku pada Karlina. Tapi kembali lagi, mulut ini terasa terplester dengan kuat, untuk menganga aja susah setengah mati. Yah dengan sejenak menenangkan diri, sambil memejamkan mata aku mencoba mendinginkan hati dan pikiran ini agar aku bisa mengutarakan maksudku pada Karlina. Kamu kenapa Jay? sentak aku terkaget, disaat aku memejamkan mata, Karlina menepukku, haduh makin bingung aku menjawabnya. Dengan alasan yang kuat serta didorong oleh keinginan luhur maka aku berbohong pada Karlina, dengan santainya aku menjawab "Ah tidak apa-apa, aku hanya sedikit mengantuk saja, mungkin cacing-cacing di perutku sudah tak tahan ingin menyantap nasi goreng itu".

Saat hati dan pikiranku mulai tenang, sedikit demi sedikit kubuka mulut ini untuk mengatakan apa yang aku rasakan. Dengan nada yang lembut dan gemulai, aih bencong donk..

Tanpa pikir panjang, aku berkata "AKU CINTA KAMU, MAU GK JADI PACAR AKU", sontak Karlina langsung melirik kepadaku, dengan kepala tertegun seakan tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Karlina hanya terdiam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, begitupun dengan aku, dengan keringat yang sudah mengalir seperti keran air PAM, akupun tertegun seakan masih tidak percaya jika aku mengatakan hal demikian pada Karlina.

Sesaat kami saling memandang dan membisu oleh keadaan, suasana kantin yang ramai tak berpengaruh pada            pada kondisi kami berdua, lalu aku beranikan diri menjelaskan apa yang aku rasakan.

"Aku pernah mencintai seseorang, aku pernah menyukai seseoang, akupun pernah menyayangi seseorang. Namun karena kebodohanku, aku membiarakan wanita yang aku sayangi pergi, bukan karena aku sudah tak cinta, namun sosok ini, jiwa ini masih belum mampu menampung kepercayaan diri, sehingga yang ada rasa gugup, cemas, cupu, serta grogi membuat hidupku hampa. Karena semua itu mebuat aku sangat terluka, bukan hanya aku yang terluka, namun kekasih yang aku cintaipun terluka, aku pernah membiarkan seseorang yang aku cinta pergi tanpa ada kepastian dariku, karena aku terlalu malu untuk mengungkapkan perasaan ini padanya. Setelah lama berselang, hidupku kembali terang, setelah aku lihat ada sosok matahari yang menerangiku kembali, aku tak ingin gelap itu datang kembali. Karena saat ini, aku mencintaimu, ya kamulah matahariku Karlina".

Hanya sampai disitu aku bisa berbicara pada Karlina, karena ketika aku ingin mengutarakan lebih dalam lagi padanya, aku sudah tertahan dengan ucapan Karlina. "AKU JUGA CINTA KAMU, YA AKU MAUUUUU". Dengan muka manisnya, serta keluguannya membuat hati ekeu tambah silau cin...

Kalau dalam tubuh ini tersedia tombol pilihan antara tombol pingsan dan tombol bahagia, mungkin aku akan pencet tombol pingsan terlebih dahulu. Aku sungguh malu mengutarakan semua itu, ditambah lagi Karlina merespon positif apa yang aku maksud. Tak menyangka aku bisa juga menyampaikan maksudku. Akhirnya aku bisa menggenggam tangan Karlina, suasana hatiku makin riuh dengan suasana yang campur aduk, bahagia, gembira, malu, ah semua itu bikin aku lupa diri hampir membuatku amnesia.

Dengan kondisi yang masih gugup dan gemetar, akhirnya kami bisa menyantap makanan yang sudah lama kami pesan. Dengan perasaan malu-malu, aku menyantap makananku dan begitupun dengan Karlina, sesekali aku mencuri-curi pandang pada Karlina. Kami sangat menikmati sekali kondisi seperti itu, dimana saat itu untuk pertama kalinya aku mempunyai pacar. Mungkin Karlina bukan cinta pertamaku, tapi Karlina adalah pacar pertamaku.

Saat itu pula, aku putuskan untuk menjaga Karlina dengan sebaik-baiknya, aku tak ingin lagi kehilangan wanita yang aku sayangi. ya dialah KARLINA.

Karena jam bel masuk akan segera berbunyi, lantas kamipun mulai meninggalkan kantin, kugenggam tangannya sambil selangkah demi selangkah menuju kedalam kelas.

Mau tahu kelanjutan kisahnya?


Tunggu terus, episode berikutnya di CINTA KESELEK DUREN PART 3.





Cupu-Cupu Cinta (Part 2)

By : Unknown
sumber gambar : google.com
Andai saja padaa saat itu aku berani mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada Karmen mungkin semuanya tidak seperti ini. Bisa saja hari ini aku dan Karmen telah menjadi sepasang kekasih, namun semua itu sirna berkat kecupuanku, ketakutanku, serta kegelisahanku untuk mengungkapkan betapa aku cinta padanya.

Saat itu, memang benar-benar saat terakhir aku bertemu Karmen. Setahun telah berlalu, kini aku duduk di bangku SMA, yaitu disaat seorang manusia benar-benar mulai puber. Satu tahun pula aku tidak bertemu dengan Karmen. Bukan aku tidak mencari Karmen, justru aku sudah hampir mati mencari-cari dia. Hampir setiap hari aku cari dan terus mencari Karmen, kepada semua teman SMP ku yang dulu, aku menanyakan keberadaan Karmen, namun tak satupun yang mengetahui keberadaannya. Aku tanyakan pula dimana alamat Karmen, mereka bilang Karmen sudah tidak tinggal di tempat yang dahulu lagi.


Karmen memang sosok seorang yang tidak bisa aku lupakan, mungkin karena memang dia cinta pertamaku. Sampai saat ini aku masih menyadari betapa bodohnya seorang JAY.

Namun aku sadar, sejak saat itu aku mencoba untuk sejenak memfokuskan diri pada belajar, karena bagaimanapun tugas utama sekolah ya belajar, masa memikirkan percintaan terus. betul tidak???

Hari berganti hari, namun tetap saja isi kepala ini penuh dengan  Karmen. Karmen oh Karmen, kamu tuh kaya maling. Semakin ku kejar semakin kau jauh..

Saat itu rasanya, benar-benar ingin rasanya menghentikan pencarianku terhadap Karmen. Bukan karena aku tak sayang lagi padanya, karena aku berfikir biarlah tuhan yang akan memepertemukan aku kembali, entah dimana, pada saat kapan, dan dalam kondisi apa aku tak tahu, semuanya sudah aku pasrahkan.

Yang paling membuat aku geger adalah ketika aku terpilih lagi menjadi ketua kelas, ternyata hal ini berlanjut bukan saja saat aku di SMP namun juga saat aku menginjak bangku SMA. Saat ini aku berada di kelas 1 SMA, dan yang paling membuat aku cetar mebahana adalah aku mempunyai sekretaris yang cantik bernama Karlina, yang entah kenapa perasaan aku padanya biasa saja, namun membuat hatiku penuh dengan guntur, atau mirip seperti barang-barang berjatuhan, tidak karuan.

Dalam hati, aku terus bergelut apakah aku akan benar-benar melupakan Karmen??semuanya benar-benar tidak karuan. Tidak jelas apakah perasaan ini adalah perasaan cinta atau bukan, yang jelas pada waktu itu aku sangat menikmati sekali dengan keadaan aku bersama Karlina.

Semakin hari, entah apa yang merasukiku, bayangan Karmen seperti terus meredup. Semua berganti dengan sesosok wanita yang baru saja ku kenal, yaitu Karlina. Aduh, dalam hati aku bergumam, kenapa aku bisa seperti ini, padahal jelas sekali Karmen adalah wanita yang benar-benar aku cintai.

Meskipun aku dan Karmen tidak sempat merajut kasih, ceilehhhh..kaya benang aja. Tapi yang jelas, aku dan Karmen memang jelas saling mencintai. Apakah aku benar-benar akan melupakan Karmen?

Waktu disekolah banyak kulaui dengan kegalauan, GALAU saat itu belum ngetrend, karena belum banyak anak ALAY saat itu. Meskipun banyak yang mengalami perasaan sepertiku, tapi kami tidak menyebutnya GALAU, entah apa dulu sebutannya, yang jelas kami tidak memikirkan hal itu. Beda dengan zaman sekarang, yang serba sesuatu, bahakan hal kecil sekalipun bisa menjadi hot news, atau trending topic di twitter.

Saat itu mengungkapkan sesuatu sulit, beda dengan sekarang, butuh curhat tinggal buka facebook, bikin tulisan di wall, habis itu banyak deh yang komentar. seperti cemunguddd ea..atau bisa juga Qm suks3S cELAlu ea..yang entah dari planet mana tulisan seperti itu berasal, butuh waktu berjam-jam untuk membaca lalu mencerna maksud dari tulisan-tulisan tersebut.

Atau bisa juga, saat ingin berkicau tentang perasaan, buka deh twitter. Dengan  140 karakter kalian bisa menulis perasaan kalian, meskipun tidak bisa mengungkapkan 100% perasaan kamu, namun bisa menggambarkan kegalauan kamu.

Coba bayangkan dulu, ketika itu tidak ada namanya facebook dan twitter??apa yang aku lakukan?hanya di pendam saja pemirsa..coba pemirsa tebak betapa sakitnya hatiku saat itu..Pernah aku coba menulis perasaan lewat mading, yang ada malah digamparin guru ( sorry just kidding), sayang dulu tidak ada danau di lingkungan sekolah, kalau ada sudah aku kobok-kobok tuh danau sampai keruh sekeruh hatiku.

Ok fine, kita balik lagi ke cerita. waktu berbulan-bulan telah aku lalui disekolah, semakin hari perasaan aku kepada Karlina muncul, mirip seperti awal dahulu ketika aku jatuh cinta pada Karmen. Selama hal itu banyak pula yang telah aku lalui bersama Karlina. Pada dasarnya antara Karlina dan Karmen sangat jauh berda, bagaikan minyak dan air. Jika Karmen lebih tomboy, maka karlina sebaliknya, dia lebih kemayu, lebih sopan dalam menjaga percakapan, bahkan suaranya lebih lembut dari kapas.

Aku sadar betul kedua orang itu, kedua wanita itu, benar-benar membawaku kejurang kegalauan. hadeuhhh mulai lebay.Maaf tapi memang seperti itulah yang aku rasakan. Akhirnya saat itu aku benar-benar memutuskan untuk tidak memikirkan Karmen lagi, biarlah Karmen aku siampan dalam-dalam di hati ini, hingga aku alihkan semua cintaku pada Karlina. Sejak saat itu pula, aku mencoba bermodus ria, dengan mendekati Karmen, agar aku bisa mengenal lebih dalam lagi sosok Karlina.

Ada hal yang tak bisa aku pungkiri saat ini, bahwa aku merasakan kembali jatuh cinta pada seorang wanita sama seperti aku mencintai Karmen, permasalahannya adalah apakah sekarang aku berani menyatakan perasaanku?tetap saja sampai saat ini aku masih snagat cupu untuk menyatakan perasaan, masih sangat naif, serta masih sangat canggung untuk mengutarakan hal seperti itu.

Aku masih teringat ketika aku melakukan kesalahan karena membiarkan wanita yang aku cintai pergi, kali ini kesempatan datang lagi, namun aku masih ragu untuk mengungkapkannya pada Karlina. Aku tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali. Aku tidak ingin kehilangan boncengan tukang ojek, oppss sorry, maksudnya kehilangan Karlina.

Suatu hari di pagi yang cerah di sekolah, seperti biasa aku datang selalu mepet pada jam bel masuk, entah kenapa padahal selalu aku luangkan waktu yang banyak untuk berangkat sekolah, tapi tetap saja nyaris telat terus.

Oh iya pada saat itu, aku masih naik angkot, yah angkot is my life, hehehe
Aku masih tidak diizinkan untuk membawa kendaraan seperti motor ke sekolah oleh ortu, padahal pada saat itu bukan angkot yang menjadi trending topic, tapi motor. Yah itulah bahan yang selalu menjadi perbincangan kaum pria lajang dan bau kencur pada saat itu, heboh bersuara tentang modifikasi motor.

Saat bel akan masuk, aku melihat Karlina duduk sendiri, aku bertanya-tanya, kenapa Karlina duduk sendiri, kemana Karin?Karin adalah temanku, teman Karlina juga, tapi ingat bukan teman Kalian ya. Tapikalau pengen kenalan boleh lah, biar aku yang jadi penghubung.

Ternyata Karin saat itu sakit, dan terpaksa Karlina duduk sendiri, Ah kesempatan bagus ini, kataku dalam hati. Dengan polosnya aku mendekati Karlina, "Bolehkan aku duduk bareng kamu?", Karlina hanya diam sejenak, lalu dengan dinginnya, silahkan Jay. Haduh, betapa indahnya hari itu. Seperti duduk bareng Putri Keraton.

Bukan rahasia lagi, jika teman-teman sekelas memang mengetahui jika aku menyukai Karlina. Semua berkat Eko, ya dialah biang gosip semua itu. Aku menceritakan semuanya tentang perasaanku padanya, namun apa yang terjadi??sungguh kalau saat itu aku bawa jarum, sudah aku kempesin dia.

Eko adalah teman sebangku ku, perawakan eko tinggi dan besar, meskipun begitu aku sangat bersyukur punya sahabat seperti dia, yang penuh dengan solidaritas dan kehumoran.

Saat itu aku mulai intensif melakukan pengenalan lebih mendalam kepada Karlina. Setelah berminggu, terdengar kabat dari teman-teman sekelas jika Karlinapun menyukaiku, alangkah bahagianya aku saat itu. Antara perasaan senang, malu, dan gerogi. semua jadi satu mirip ketoprak.

Terdengar gosip seperti itu, Eko mulai mengompori, memancing, dan memanaskan suasana yang membuatku malu, "Teman-teman, ternyata di kelas ini ada yang saling jatuh cinta", itulah kata Eko pada teman sekelas dengan suara lantangnya yang mebuat satu kelas bersorak. Siapa ko??, timpal salah seorang teman. Kok mukamu merah Jay. Timpal balik salah seorang teman, eh ternyata Karlina juga merah mukanya, Eko mengompori. Serentak semua kelas heboh, dan meledek bahagianya, sungguh tersiksa saat itu, namun jujur saja aku bahagia.

Setelah kejadian itu, aku sering curhat masalah perasaanku pada Eko, mungkin Eko juga sudah bosan mendengarnya. Eko mulai menyarankan agar aku menembak Karlina. Aku juga sebenarnya ingin melakukan hal itu, namun apa daya, semua kecupuanku, rasa maluku, rasa gugupku, mengalahkan semua perasaan yang ingin aku sampaikan pada Karlina.

"Kalau dalam seminggu ini, kamu tidak juga menyatakan perasaanmu pada Karlina, kamu bisa jadi kehilangan Karlina seperti saat kehilangan Karmen.Sebab ada kabar dari kelas lain, bahwa ada yang ingin menembak Karlina dalam minggu ini", itulah kata-kata yang terlontar dari mulut eko untuk mengingatkanku. Saat mendengar kata-kata itu, hatiku kaya gado-gado, antara takut kehilangan dan kegalauan karena takut menyampaikan perasan pada Karlina.


Ingin tahu apakah aku menembak Karlina dalam waktu satu minggu??
Silahkan tunggu Part ke 3.



Cupu-Cupu Cinta (Part 1)

By : Unknown
Sumber gambar : google.com
Kala itu aku masih duduk di bangku SD, entah apa yang terjadi padaku. Lazimnya anak seusiaku lebih fokus pada bermain, belajar, ataupun bercanda ria dengan para sahabat.

Namun lain denganku, aku sama seperti yang lainnya. Hanya saja aku sudah mengenal jatuh cinta, akupun bingung dengan keadaanku. Jika anak seusiaku menyukai lawan jenis, itu wajar jika hanya sebatas suka. Namun saat itu cintaku sangat menggebu-gebu.

Kejadian itu berangsur-berangsur terjadi hingga aku akhirnya melanjutkan ke tingkat SMP. Saat itu aku duduk di bangku kelas 2 SMP. Aku sekelas dengan temanku yang cantik, sebut saja Karmen. Dia adalah wanita yang sangat aku sukai, wajahnya yang begitu ayu, kulitnya yg putih, serta parasnya yang cantik membuat semua pria menyukai dia, bukan hanya laki-laki dalam satu kelas saja, bahkan mulai dari kelas 1, kelas 2, hingga kelas 3, semua kenal dengan Karmen. Bersyukur sekali aku bisa sekelas dengannya.

Aku adalah sesosok pria yang pada saat itu lebih dikenal teman-teman pendiam, istilah kerennya cool, tapi bukan cooleheu (istilah sunda)...hehe

Aku mengenal Karmen dengan sangat baik, begitupun Karmen, Bagaimana tidak kenal, pada saat itu aku adalah ketua kelas, dan Karmen adalah sekretarisku. Semua momen disekolah, baik itu mengenai tugas, piket, hingga setiap laporan mengenai apapun kepada guru pasti selalu aku dan Karmen yang menghadap. Itu sudah menjadi tradisi disekolahku kala itu, setiap ketua kelas dan sekretaris menjadi pilar utama pada suatu kelas.

Karena hari terus berganti, dan aku lalui lebih banyak bersama Karmen, hatikupun berubah 180 derajat, yang tadinya menganggap dia teman baik, hingga aku mulai menyukai dia, bahkan mencintai Karmen.

Tapi karena saat itu aku pemalu, pendiam, dan masih cupu, aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku pada Karmen. Aku pada saat itu sadar diri, dengan kondisiku yang seperti itu, Karmen mungkin akan jijik padaku jika seandainya aku tembak.

Oh iya by the way, daritadi aku nyerocos kaya tronton, belum kasih tahu siapa aku. Aku Jay, aku anak pertama dari tiga bersaudara. Aku lahir dilingkungan keluarga dari latar pendidikan, ayahku guru dan ibuku guru. Satu hal lagi, aku tinggal di kota kembang bandung.

Mari kita lanjut ke Karmen. Asal kalian tahu, Karmen sering gonta-ganti pacar, kalau aku hitung semua jariku gk cukup. Ntah kenapa dia bisa seperti itu aku tidak tahu, yang jelas daya pikatnya memang luar biasa. Aku tidak menganggap dia playgirl atau entah apa namanya, karena dia tidak menyakiti pria yang dekat dengannya, hanya saja dia komitmen kepada pacarnya dia tidak ingin terlalu serius menanggapi hubungan cintanya.


Ada suatu kejadian dimana aku dan Karmen terpilih sebagai perwakilan kelas terbaik dalam ajak mojang dan jajaka kelas. Ya itu lah kita, memenangi gelar tahunan yang diadakan saat pentas seni, coba tebak seberapa besar bahagia yang aku rasakan? wuiiihhhh, gk kebayang coy. Bahagia luar biasa, bukan karena juaranya, tapi karena aku berpasangan dengan Karmen.


Tak terasa waktu satu tahun telah berlalu, hingga akhirnya aku beranjak naik ke kelas 3. Namun sikap aku masih saja cupu, pendiam, dan terlalu malu untuk mengatakan kalau aku cinta terhadap Karmen. Sebenarnya ingin sekali aku juga menanyakan bagaimana perasaan Karmen kepadaku.

Apa dia juga menyukaiku sama seperti aku menyukai Karmen, ahhh ini hanya khayalanku saja pada saat itu,mana mungkin Karmen menyukaiku.

Asal kalian tahu, setiap hari Karmen kalau pulang itu naik angkot, dan hal itupun terjadi padaku. Karena saat itu angkot masih ngetren, bahkan kalau saat itu sudah ada twitter mungkin angkot sudah menjadi trending topic, ataupun kalau sudah ada facebook, mungkin sudah ada 1 juta likes.

Saat itu hanya beberapa siswa saja yang memiliki motor, dan itupun sekolah pada saat itu melarang semua siswa membawa kendaraan pribadi, ntah itu motor ataupun mobil.

Saat yang paling menyenangkan adalah, ketika ada momen pulang bareng dengan Karmen, karena kebetulan arah rumah Karmen searah dengan rumahku. Karena rumaku lebih jauh, jadi aku selalu kehilangan ketika Karmen meninggalkanku duluan turun pergi dari angkot.

Karena bagaimanpun momen seperti itu tidak setiap hari terjadi, Karmen punya segudang aktivitas, selain mengurusi cowoknya, dia juga aktif berorganisasi, musik adalah hobinya. Meskipun hobi kita sama, namun Karmen lebih aktif membentuk grup band.
Aku akui, Karmen mahir sekali bermain gitar, meskipun skillnya masih dibawahku, ceeilehhh,,,hehehe ( sombong dibalik udang).


Kita mempunyai inventaris alat musik di kelas, meskipun hanya gitar, tapi cukup menghibur untuk bermain didalam kelas. Tapi ingat jangan pernah membuat gaduh saat teman kelas yang lain belajar.

Hingga waktu ujian nasionalpun tiba, hari-hari dimana waktu aku bersama Karmen hanya tinggal menunggu waktu. hari itu dilalui terlalu sulit, karena selain belajar untuk lulus, pikiranku selalu tertuju pada Karmen. Apakah aku terlalu bodoh untuk membiarkan perasaanku terpendam.

Pagi itu saat ujian akan berlangsung, aku ingat saat itu akan ujian bahasa inggeris. Namun mendekati tes dimulai, aku tidak melihat Karmen, hingga kamipun masuk akupun masih tidak melihat Karmen. Saat itu juga aku mulai tidak fokus dengan semua soal ujian, pikiranku hanya kepada Karmen.

Dari puluhan soal yang ada, aku hanya baru mengisi 3 soal. Bayangkan betapa bodohnya aku, namun 45 menit berlalu tiba-tiba datang sesosok wanita yang begitu membuat aku bersemangat kembali. ialah Karmen, dia datang terlambat, karena saat itu dia harus menjaga ibunya terlebih dahulu, ibu Karmen sakit saat itu, sehingga keperluan dia, adik-adiknya harus Karmen tangani sendiri terlebih dahulu. Oh iya, aku belum cerita, Karmen ini adalah anak broken home, ayah dan ibunya sudah satu tahun bercerai. Entah karena apa penyebabnya, aku tidak tahu. Bukan karena aku tidak care, justru aku tidak pernah dikasih tahu Karmen alasannya. Kalaupun aku bertanya, aku takut melukai perasaanya.


Saat Karmen datang, aku seperti popeye yang habis makan bayam, energiku kembali bugar, dan kembali bersemangat. Begitulah luar biasanya Karmen merubah semangatku, semua soal tiba-tiba menjadi mudah bagiku, tak disangka puluhan soal dapat aku selesaikan dalam hitungan menit. Entah aku memang terlanjur pintar, atau asal-asalan.wkwkwkw


Ujian nasionalpun telah berkahir, sekolah memberi jeda libur beberapa hari untuk siswa beristrahat. Namun libur itu sungguh menyiksaku, karena aku tidak bertemu dengan Karmen. Coba aku tanya, apa kalian pernah merasakan apa yang aku rasakan???disaat kalian menyukai atau mencintai seseorang, namun beberapa hari kalian dipisahkan?apa yang kalian rasakan??


Aku juga belum menjelaskan kepada teman-teman pembaca yang tercinta, yang baik hati dan tidak sombong. Kala itu HP masih menjadi hal yang tabu, belum banyak yang memilikinya. Dari sekian ribu siswa, hanya puluhan siswa saja yang punya, aku dan Karmen termasuk siswa yang belum mempunyainya. Sedih kali ya....hiks hiks hiks

Kalau saat ini, HP bukan barang langka lagi, tapi sudah menjadi kebutuhan, orang rela kehilangan dompet daripada kehilangan HP. Apakah pendapat saya in i betul??.
Sekarang zamannya gadget, mulai dari balckberry, iphone, ipad, android sudah menjamur dimana-mana, gk gaul kalau gk punya HP di zaman sekarang. Apalagi ditambah dengan maraknya fenomena anak Alay.wkwkwkwkw


Kisah ini terjadi pada tahun 2000, bayangkan kejadian tersebut sudah 13 tahun berlalu.


Hari pengumuman kelulusanpun tiba, hal yang paling mendebarkan kedua setelah tak bisanya mengungkapkan perasaan kepada Karmen. Pengumuman itu di tempel di mading sekolah, sebelum melihat hasil, aku fokus berdoa agar aku bisa lulus. Saat aku berdoa, banyak sekali siswa sudah bergembira, melihat teman yang lain sudah melihat hasilnya dan sorak-sorak bergembira, detak jantungku semakin kencang seakan tak sanggup lagi melihat hasil ujianku. Setelah berdoa aku paksakan selangkah demi selangkah mendekati papan pengumuman yang berdesakan dengan siswa yang lain. Akhirnya aku berada didepan papan pengumuman, dan tak kusangka disitu ada Karmen, aku menatap wajah dia dan diapun menatap wajahku, dan berkata "Hai", kata Hai saja bisa membuat aku mabuk kepayang..gubrak...

Akhirnya aku telusuri satu persatu namaku dan nama Karmen, apa yang aku lihat???
"LULUS", aku dan Karmen jingkarak-jingkran mirip cacing kepanasang saking senangnya kami bisa lulus, meskipun nilainya tidak terlalu bagus, namun kami tetap bangga karena bagaimanapun kita berjuang dengan keringat sendiri, tidak mencontek.

Selepas melihat pengumuman, Karmen mengajaku makan siang. Seperti biasa nasi goreng adalah kesukaan Karmen, dan aku memesan soto ayam sebagai santap siangku. Pada kesempatan itu Karmen bercerita banyak hal, termasuk kelanjutan sekolahnya. Jay, setelah kamu lulus akan meneruskan kesekolah mana? kalau aku sepertinya masih di bandung. Sentak pertanyaaan itu membuatku kaget. Lalu akupun menjawab, ya sepertinya akupun di bandung. Aku bercerita-cerita banyak hal saat itu, namun masih saja aku kaku tidak bisa mengungkapkan perasan ini padanya, rahang ini seperti menahan 1 buah duren yang menyangkut ditenggorokan.

Hingga saatnya kamipun selesai menyantap makan siang, dan aku mengantarkan Karmen pulang. meskipun aku dan Karmen pulang bareng, tapi aku tak pernah ikut turun mengantar Karmen pulang, karena Karmen selalu bilang Tidak Usah, nanti kamu bayar angkot dua kali. Bagiku itu tidak masalah, namun Karmen belum mengizinkan aku berkuknjung ke rumahnya. Saat pulang Karmen menitipkan secarik surat untukku. "Tolong baca ini sesampainya di rumah". Begitulah Karmen berkata.


Sesampainya di rumah, tanpa basa basi, akupun langsung naik ke atas kasur dan sambil tiduran terlentang, aku membaca surat yang diberikannya padaku.


Begini isinya.

"Hal terindah yang aku rasakan selama di sekolah, adalah saat aku bersamamu. Hal terindah yang aku rasakan di sekolah, adalah saat berdua denganmu. Dan hal yang membahagiakan dalam hidupku adalah saat tuhan menemukanmu denganku. Hal yang belum aku miliki saat ini, adalah cintamu, kasih sayangmu, bukan sebagai teman atau sahabat, melainkan sebagai kekasihku. Aku memiliki banyak pacar, dan aku tidak pernah serius pada mereka, karena apa?apa kamu tahu kenapa aku tidak pernah serius seperti itu? karena aku ingin kamu yang menjadi pacarku. Aku lelah menunggumu, aku tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku. Apa ini hanya harapanku saja? dari tahun ke tahun aku hanya menunggumu, untuk menunggu bilang kamu "Aku cinta kamu".



Itulah bunyi dari surat dari Karmen, sentak saja air matakupun berlinang, betapa bodohnya aku selama ini, menyia-nyiakan seorang wanita yang pada dasarnya benar-benar aku cintai.
Andai saja Karmen tahu, betapa aku juga sangat mencintai dia, tapi aku sadar semua salahku, semua berkat ketidakmampuanku untuk berkata aku menyayanginya.

Tak kusangka pula, hari itu menjadi hari terkahir aku bertemu dengan Karmen...



....BERSAMBUNG.....

Cinta Beralas Tikar

By : Unknown
sumber gambar : google.com
Kelak disaat aku menangis, akan ada seseorang yang menghapus air mataku, bukan "menjauh".

Kelak disaat aku sedih, akan ada seseorang yang meberikan pundaknya untuk menjadi sandaranku, bukan "menjauh"

Kelak disaat aku sakit, akan ada seseorang yang lebih peduli padaku, bukan "menjauh"

Aku bersyukur Allah telah mempertemukan aku dengannya lagi, Allah juga telah menjawab doamu agar bisa kembali padaku.  Semoga kamu tidak menyia-nyiakan doa yang telah Allah kabulkan.

Aku tidak akan kembali padamu, kecuali Allah benar-benar memberikan kesempatan yang kedua padamu untuk kembali bersamaku.

Sudah berulang kali kau ingin pergi dariku, sudah berulang kali pula aku menahanmu agar kau tetap bersamaku. Sungguh sedih rasanya hati ini, ketika mendengar kau ingin pergi dariku, ternyata kau lebih memihak pada egomu, amarahmu, serta sakit yang kau rasakan, dan hanya menilai perasaanmu saja, tanpa melihat dari sudut perasaanku, serta tanpa melihat waktu kebersamaan dan kebahagiaan yang telah kita lewati.

Sungguh sakit rasanya mendengar kau selalu ingin pergi, hingga air mata ini sudah tak bisa lagi menetes.

Sakit yang aku alami, pedih yang aku rasakan, semuanya tak membuat aku ingin pergi darimu, justru rasa sayang ini yang bertambah besar kepadamu, yang kubayangkan bukan hanya pedih, tapi kebahagiaan. Aku tidak ingin amarah ini, ego ini mengalahkan hati kecilku.

Karena kamulah segalanya,

Kali ini aku benar-benar mengikhlaskanmu untuk pergi, karena seharusnya aku bahagia, bukan bersedih.
Karena seharusnya aku bisa lebih bahagia jika bisa melihatmu lebih bahagia.

Aku tidak khawatir dengan jodohku, jika aku baik pasti dipertemukan dengan yang baik, jika aku jahat aku pasti dipertemukan dengan yang jahat.
Namun jika aku baik dan dipertemukan dengan yang jahat, atau sebaliknya aku jahat dan dipertemukan dengan yang baik, itu semua kuasa Allah, ada rahasia dibalik rahasia.

Biarpun kamu, dan semua orang di dunia ini tidak tahu. Tapi Allah tahu perjuanganku untuk mempertahankan cinta kita. Allah tahu dalamnya perasaanku terhadap pasanganku. Allah pun tahu bagaimana pengorbanan aku dan apa yang telah aku lakukan .

Jadi aku tidak khawatir lagi sekarang.

Kelak akan ada seseorang yang bisa menerima kecerewetanku, kebawelanku,dan perhatianku. Bukan karena terpaksa, tapi karena tahu itulah bentuk kasih sayang aku.

Aku tidak pernah merendahkan diri, agar pasanganku bisa menerimaku apa adanya. Selama aku bisa bernafas, akan aku lakukan lebih baik lagi, dari apa yang bisa dibayangkan.

Aku cuma butuh orang yang tahu kekuranganku, tapi tetap setia bersamaku, bukan yang ingin pergi dan ingin pergi saja.

Aku doakan semoga kamu baik-baik saja, dan bisa mendapatkan apa yang kamu mau.

Terimakasih karena kamu telah menjadi bagian dari hidupku dan telah mengukir aku dihatimu.

Selamanya kamu akan selalu terukir dihati ini.

Maaf jika selama ini aku tidak bisa menjadi apa yang kamu harapkan, dan tidak bisa membahagiakanmu. Aku sadar aku banyak kekurangan. Doaku akan terus menyertaimu.

Tapi ketahuilah, aku sudah berjuang, ketahui pula, besarnya gunung, tingginya langit, serta dalamnya lautan tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa ini untukmu.

Sekali lagi terimakasih atas waktu yang indah bersamamu.




Miss Our Moment

By : Unknown
sumber gambar : google.com
Kala itu aku mendengar teriakan yang amat kencang, tapi teriakan itu bukan membuat aku takut tapi justru mebuat aku damai..

Bukan hanya 1, bahakan ada 3 teriakan yang mebangunkanku dari tidur, ketika ku buka jendela, aku nelihat sesuatu yang begitu cantik, oh sungguh indahnya pagi ini.

Teriakan yang mebangunka adalah seekor burung kenari yang begitu canti, mereka beterbangan di atas atap rumah, dengan anggunny mengepakan sayap-sayap mereka, begitu lembutnya bulu-bulu mereka.

Tak kubayangkan, manisnya cinta ditambah alunan nada kicauan burung, membuat hati terasa sejuk nan  damai.

Tanpa disadari, mereke pergi tanpa meninggalkan sehelai bulupun, namun aku berterimakasih pada Tuhan atas indahnya pagi ini.

Kadang aku mulai terhenyut, ketika mereka pergi., aku hanya seorang diri di rumah ini, rumah yang bagiku cukup luas.

Dengan halaman yang penuh bunga, yang mebuat segarnya udara begitu terasa.

Aku lupa memberi pesan kepada burung-burung yang telah mebangunkanku dari tidur, aku ingin mereka menyampaikan, aku rindu, rindu akan keluarga, rindu akan sahabat, dan rindu akan kehangatan cinta.


Aku berharap ketika aku tertidur, dan aku terbangun, akan ada teriakan lagi yang mebangunku, bukan dari para burung, akan tetapi dari mereka yang mencintaiku.



Kadal Cantik

By : Unknown
Sumber gambar : google.com
Kamu tahu kenapa kamu begitu penting buat aku?

karena separuh aku ya dirimu...(Noah banget), sebetulnya bukan cuma itu, ada hal yang belum bisa kumengerti, ada hal yang masih terbayang dan belum bisa aku jelaskan.

Tapi satu hal yang pasti, aku tidak melilih kamu, tapi hatiku yang memilih kamu..mungkin kamu juga tidak memilih aku, tapi hatimulah yang memilih aku.

Jika kamu mencintai aku tanpa mengerti kenapa kamu bisa mencintai aku, maka aku percaya  jika kamu benar-benar cinta.

Begitupun aku, ketika aku mengatakan aku cinta kamu, saat itu juga aku menjadi bisu, seakan-akan mulut ini telah dibekam atau di lem yang super kuat.

Jika aku bisa menjelaskan dengan kata-kata rasanya sangat sederhana sekali mendefinisikan apa yang aku maksud, tapi sayang, ratusa bahkan ribuan kata yang ada dalam pikiran tidak mampu aku luapkan akan arti cinta.


Jika elang saja bisa terbang tinggi dan tiba-tiba bisa menangkap seekor ular,mengapa mulut ini tidak bisa berkata-kata ketika seseorang yang di cinta ada dihadapan kita?

masalahnya cinta itu bukan di mangsa, cinta juga bukan predator yang bisa memakan sesuka hati, cinta juga bukan rantai makanan, yang ada urutannya dalam perburuan.

Cinta juga bukan sembarang simbiosis, tapi jika simbiosisnya mutualisme itu pengecualian, jika cinta kamu dan dia sama-sama saling menguntungkan, saling membahagiakan, serta saling mencintai kenapa tidak dijalani.

Hanya saja, banyak hal yang tidak bisa dianalogikan, kadang kita bisa mengerti maksudnya, dan kadang pula aku tidak tahu apa yang di maksud olehnya, begitupun dia.

Seperti memakan permen isi, tapi dalamnya sambal. Ataupun seperti makan lemper tapi dalemnya kacang panjang.

Semuanya susah dimengerti, tapi jika mudah dimengerti itu bukan cinta namanya....



Kaupun Berlabuh

By : Unknown
Kadang apa yg telah kita lakukan, sekalipun itu baik, tidak selalu bisa diterima dengan baik,

Kadang usaha yg telah kita lakukan, sekalipun darah telah membasahi tubuh karena perjuangan, tidak selalu membuat kita brhasil,

Kadang cinta yg besar dan tulus sekalipun, belum tentu dapat diterima dgn baik,

Ikhlas lah, dan bersyukurlah atas semua yg telah kamu lakukan,

Jangan menyesal, karena penyesalan akan membuat pengorbanan kamu sia-sia,

Keberhasilan yang sesungguhnya bukan terlihat dari yang tampak, itu hanya bonus

Ketika anda bersabar, bisa menata diri, serta bisa mendewasakan, itu sebenarny keberhasilan yg sejati,

Rezeki dan jodoh tidak akan tertukar,
Allah SWT sudah memberikannya secara gratis,
Tinggal bagimana cara mendapatkannya,

Pada dasarny semua orang itu kaya,mereka hanya malas saja mendapatkan apa yang telah Allah berikan

Pada dasarnya dengan siapapun anda berpasangan, itulah jodoh anda, kemanapun anda berlabuh ketidak cocokan pasti ada, karena manusia tidak ada yg sempurna

Hanya Allah yang dapat memisahkan ,seperti kematian,

Jika psangan anda menginkan anda pergi, maka pergilah, carilah seseorang yg benar-benar bisa menerima dengan ikhlas kasih sayang kamu,

Takdir itu allah yg menetuukan, tapi nasib, kita sendirilah yg merubahnya,

Jangan biarkan waktu yang membuat kamu paham, tapi kamulah yang harusnya mengefesienkan waktu untuk memahami segala hal.





Trust Your Self

By : Unknown
sumber gambar : google.com

Lebih baik belajar dengan tools yang sederhana tapi maksimal, daripada belajar dengan tools yang kompleks tapi hasil tidak maksimal. Manfaatkan potensi yang ada dalam diri kalian, memiliki satu kemampuan yang dominan namun terasah jauh lebih baik ketimbang memiliki sedikit skill dalam semua bidang. Dari satu skill terasah yang kamu miliki kamu bisa menghasilkan ribuan karya yang luar biasa.



Rainbow

By : Unknown
Sumber gambar : google

I have been trying for make something like a rainbow, but when i was drawing i didnt find one of colours....so, maybe i am not perfect for drawing that, but i am not worry, i would try like mixed two colours for producing one a beautiful colours....finally i can do something out of my ability and my logic.


- Copyright © Simple Story - Rendy K - Powered by Rendy K - Designed by Johanes Djogan -