- Back to Home »
- Cupu-Cupu Cinta (Part 3)
Posted by : Unknown
Tuesday, 28 May 2013
| sumber gambar : google.com |
Semenjak mendengar kata-kata yang Eko ucapkan, akhirnya dalam satu minggu itu aku menjadi gelisah, mirip cacing kepanasan. Disatu sisi aku takut kehilangan Karlina, di sisi yang lain akupun terlalu takut untuk mengungkapkan perasaanku pada Karlina. Aku tak ingin kejadian yang dulu terjadi lagi.
Akhirnya setelah lama aku merenung, telah aku putuskan untuk menyatakan perasaanku pada Karlina. Aku memilih hari rabu untuk aku ungkapan perasaan ini yang sangat menyakitkan bila terus dipendam. Tak lupa aku selalu bercerita kepada Eko tentang perihal rencanaku ini, Eko hanya bisa mendukungku dan menyemangatiku. Kalau perlu gue bawa superter bola biar rame nanti, itulah kekonyolan Eko.
Ekopun mulai menakut-nakuti jika tidak bergerak cepat, maka Karlina akan dilibas orang. Jangan gitu dong cuy? parah loe ma gue. Kejam nian dikau padaku. Sahut aku saat itu, dan Ekopun menimpali balik, makanya ayo lekas bergegas man. Sebelum dragon ball jatuh ketangan musuh, dan mengabulkan semua keinginannya, lebih baik loe segera ambil tindakan besok.Sip bro, Okkelah Kalou Beeggitooo.
Hari yang ditunggupun tiba, dengan segenap perasaan menggetarkan, aku melangkah demi selangkah ke dalam kelas. Aku terlalu takut untuk melihat Karlina. Awalnya aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku sebelum kelas di mulai, namun Karlina terlalu mepet kedatangannya dengan jam bel masuk kelas. Ya sudahlah aku pikir saat itu, jadi aku ke plane B. yaitu saat makan siang.
Saat jam pelajaran dimulai, dengan secarik kertas aku tulis dengan penuh goncangan, seperti goncangan tubulensi pada pesawat. Hatiku tak karuan hanya untuk menulis "Karlina mau gk makan bareng sama aku?", hanya kata seperti itu saja membuat aku tepar seperti orang stroke. Bagi adik-adik ingat, perbuatan ini jangan di contoh, Okay???fokuslah pada pelajaran, ketidakfokusan terjadi bukan saja karena ada niat, tapi karena ada kesempatan dan ada target yang mengalihkan, jadi waspadalah, waspadalah!!!
Aku berilah secarik kertas itu pada Karlina melalui Eko. "Karlina, ini ada titipan dari Jay", oh iya ko, makasih ya. Tak lama berselang, aku melihat Karlina membuka secarik kertas yang aku tulis. Karlinapun diam sejenak, sambil memfokuskan diri pada pelajaran. Aku tunggu selama 30 menit, namun Karlina tak bereaksi apa-apa.
Hatiku mulai gundah dan galau, apakah aku ditolak?tanya diriku dalam hati, apakah karlina tak ingin pergi bersamaku. Kegelisahanku membuat banyak spekulasi negatif yang tak karuan muncul dalam pikiranku. Andai ketombe tidak hanya tumbuh di rambut, dan andai lebah tidak menghisap madu, mungkin aku tidak galau. Sorry coy, udah mulai ngaco nih, jangan di ambil pusing. Mari kita lanjut ke cerita.
Harapanpun datang, ketika aku melihat Karlina menulis kata-kata disecarik kertas yang aku berikan padanya. Bukannya bahagia, hati ini malah semakin Alay. Haduh, apa ya jawabnya, terus saja benak ini bertanya-tanya apa jawabannya. Akhirnya Karlinapun memberikan suratnya padaku melalui Eko pula, "Ko sampaikan lagi ini pada Jay".
Heh Kacrut, please hentikan ini semua, gue mau belajar. Silahkan loe kirim via pos aja. Itulah kata-kata Eko yang mebuat aku tertawa terbahak-bahak, semakin gemas saja aku dengan Eko, apalagi dengan perut buntalnya. Ok coy, sorry, thanks ya.
Kubuka perlahan-lahan secarik kertas yang Karlina berikan padaku. Eng ing eng, silahkan gosok untuk melihat hadiah yang akan diperoleh. Ngaco lagi, hadeuh!!
Ternyata begini pemirsa isinya "Boleh". Ya hanya kata itu yang Karlina tulis, padahal yang aku lihat Karlina seperti menulis kata-kata atau kalimat yang panjang, akupun bingung kenapa jawabannya hanya "BOLEH" saja.
Tapi tak apalah, yang jelas kata itu memberikan banyak sekali kebahagiaan bagiku. Hanya kata "BOLEH", bisa membuatku cenat-cenut. Aku girang bukan kepayang, alangkah senangnya hati ini. Satu kata, namun memberikan banyak arti.
Jam makan siangpun mulai mendekati, dengan panah yang aku siapkan, aku akan dengan hati-hati menembak sasaranku. Bel pun berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai dan giliran untuk makan siang.
Akhirnya perlahan tapi pasti aku mendekati Karlina, dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhku, aku menghampiri Karlina dengan sesak napas. Hai Karlina, kita makan sekarang yuk?tanya aku pada Karlina. Hayu, mau makan dimana Jay? tanya balik Karlina padaku. Lalu aku merekomendasikan untuk makan di kantin Bu Hajah.
Kamipun melangkah bersama menuju tempat persinggahan untuk mengisi perut yang sudah kosong. Sepanjang perjalanan menuju kantin, terasa berat sekali langkahku seperti memakai sepatu yang terbuat dari baja 2 ton. Ditambah dengan suara detak jantung yang tak karuan begitu gugupnya berjalan dengan Karlina. Padahal jarak antara kelas kami dan kantin dekat, namun seperti menepuh perjalanan 300km.
Ah, sampai juga akhirnya. Mau makan apa Karlina?biar saya yang pesan. Nasi goreng saja Jay. Okay, aku pesan dulu ya. Sambil menunggu masakan, akupun memulai mengajak pembicaraan dengan Karlina, tak seperti yang diharapkan, kegugupan ini membuat setiap ucapan yang keluar dari mulut ini terbata-bata, tak mampu berucap lantang dan teratur. Ingin sekali aku jedotin ini mulut ke tembok, namun tak apalah yang penting aku sudah bersama Karlina saat ini.
Ternyata yang memesan nasi goreng bukan kami saja, ternyata banyak juga yang memesan, sehingga kamipun harus menunggu lama untuk bisa menyantap nasi goreng Bu Hajah yang nikmat. Tadinya sambil bersantap aku ingin mengutarakan perasaanku pada Karlina, namun rencana itu berubah ketika negara api menyerang dan menghancurkan desaku. sorry ngaco detected.
Jika aku menunggu nasi goreng pesanan kami datang, itu akan menyita waktu, sedangkan jam pelajaran hanya tinggal 30 menit lagi. Maka sudah aku putuskan untuk mengutarakan perasaanku pada Karlina. Tapi kembali lagi, mulut ini terasa terplester dengan kuat, untuk menganga aja susah setengah mati. Yah dengan sejenak menenangkan diri, sambil memejamkan mata aku mencoba mendinginkan hati dan pikiran ini agar aku bisa mengutarakan maksudku pada Karlina. Kamu kenapa Jay? sentak aku terkaget, disaat aku memejamkan mata, Karlina menepukku, haduh makin bingung aku menjawabnya. Dengan alasan yang kuat serta didorong oleh keinginan luhur maka aku berbohong pada Karlina, dengan santainya aku menjawab "Ah tidak apa-apa, aku hanya sedikit mengantuk saja, mungkin cacing-cacing di perutku sudah tak tahan ingin menyantap nasi goreng itu".
Saat hati dan pikiranku mulai tenang, sedikit demi sedikit kubuka mulut ini untuk mengatakan apa yang aku rasakan. Dengan nada yang lembut dan gemulai, aih bencong donk..
Tanpa pikir panjang, aku berkata "AKU CINTA KAMU, MAU GK JADI PACAR AKU", sontak Karlina langsung melirik kepadaku, dengan kepala tertegun seakan tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Karlina hanya terdiam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, begitupun dengan aku, dengan keringat yang sudah mengalir seperti keran air PAM, akupun tertegun seakan masih tidak percaya jika aku mengatakan hal demikian pada Karlina.
Sesaat kami saling memandang dan membisu oleh keadaan, suasana kantin yang ramai tak berpengaruh pada pada kondisi kami berdua, lalu aku beranikan diri menjelaskan apa yang aku rasakan.
"Aku pernah mencintai seseorang, aku pernah menyukai seseoang, akupun pernah menyayangi seseorang. Namun karena kebodohanku, aku membiarakan wanita yang aku sayangi pergi, bukan karena aku sudah tak cinta, namun sosok ini, jiwa ini masih belum mampu menampung kepercayaan diri, sehingga yang ada rasa gugup, cemas, cupu, serta grogi membuat hidupku hampa. Karena semua itu mebuat aku sangat terluka, bukan hanya aku yang terluka, namun kekasih yang aku cintaipun terluka, aku pernah membiarkan seseorang yang aku cinta pergi tanpa ada kepastian dariku, karena aku terlalu malu untuk mengungkapkan perasaan ini padanya. Setelah lama berselang, hidupku kembali terang, setelah aku lihat ada sosok matahari yang menerangiku kembali, aku tak ingin gelap itu datang kembali. Karena saat ini, aku mencintaimu, ya kamulah matahariku Karlina".
Hanya sampai disitu aku bisa berbicara pada Karlina, karena ketika aku ingin mengutarakan lebih dalam lagi padanya, aku sudah tertahan dengan ucapan Karlina. "AKU JUGA CINTA KAMU, YA AKU MAUUUUU". Dengan muka manisnya, serta keluguannya membuat hati ekeu tambah silau cin...
Kalau dalam tubuh ini tersedia tombol pilihan antara tombol pingsan dan tombol bahagia, mungkin aku akan pencet tombol pingsan terlebih dahulu. Aku sungguh malu mengutarakan semua itu, ditambah lagi Karlina merespon positif apa yang aku maksud. Tak menyangka aku bisa juga menyampaikan maksudku. Akhirnya aku bisa menggenggam tangan Karlina, suasana hatiku makin riuh dengan suasana yang campur aduk, bahagia, gembira, malu, ah semua itu bikin aku lupa diri hampir membuatku amnesia.
Dengan kondisi yang masih gugup dan gemetar, akhirnya kami bisa menyantap makanan yang sudah lama kami pesan. Dengan perasaan malu-malu, aku menyantap makananku dan begitupun dengan Karlina, sesekali aku mencuri-curi pandang pada Karlina. Kami sangat menikmati sekali kondisi seperti itu, dimana saat itu untuk pertama kalinya aku mempunyai pacar. Mungkin Karlina bukan cinta pertamaku, tapi Karlina adalah pacar pertamaku.
Saat itu pula, aku putuskan untuk menjaga Karlina dengan sebaik-baiknya, aku tak ingin lagi kehilangan wanita yang aku sayangi. ya dialah KARLINA.
Karena jam bel masuk akan segera berbunyi, lantas kamipun mulai meninggalkan kantin, kugenggam tangannya sambil selangkah demi selangkah menuju kedalam kelas.
Mau tahu kelanjutan kisahnya?
Tunggu terus, episode berikutnya di CINTA KESELEK DUREN PART 3.
