- Back to Home »
- Cupu-Cupu Cinta (Part 4)
Posted by : Unknown
Thursday, 30 May 2013
![]() |
| sumber gambar : google.com |
Tanpa kusadari, akhirnya sampai juga di depan kelas, saat itu juga aku melepaskan genggaman tangan Karlina. Namun ada hal yang aneh pada saat itu, entah kenapa suasana kelas menjadi sepi, semua teman-teman duduk dengan begitu rapi. Padahal biasanya ketika guru belum datang, mereka semua penuh dengan keriuhan, mirip pasar kaget.
Akupun lalu duduk dengan santainya di samping Eko, saat itu aku belum curiga apa yang terjadi. Namun aku tersentak, terdiam, dan malu luar biasa ketika terpampang tulisan di papan tulis " CIE YANG BARU JADIAN, JAY LOVE KARLINA"
Cungguh, ciyus, dan kalau perlu saat itu aku pengen loncat-loncat kaya spiderman sambil teriak WOOOOWWWWWW. Setelah aku baca tulisan itu, sontak teman-teman sekelas langsung heboh dan kembali suasana kelas mirip pasar kaget, mereka semua menghampiriku juga Karlina, sembari meledek dan memberikan semangka, selamat maksudnya.
Mungkin merahnya darah masih kalah merah dengan mukaku saat itu, namun tidak dengan Karlina. Dia begitu polos, tak ada perasaan malu, tidak ada raut kecemasan, seakan-akan Karlina sangat menikmati sekali apa yang terjadi, berbeda denganku yang notabennya memang pemalu, cupu, serta kurang percaya diri yang seakan-akan yang terjadi pada saat itu akan membuat aku mati di usia muda.
Ekopun mulai mendekati, dan kemudian dengan perut badaknya menabrakan diri padaku. "Selamat Sob, gak nyangka gue, gitu dong itu baru RUARRR BINASA". Akupun lalu memeluk Eko, mirip tokoh teletubis yang sedang berpelukan. Thank ya Bro, makasih udah mau menjadi sahabat terbaik gue.
Keriuhan yang terjadi tiba-tiba menjadi hening ketika Pak Amir datang untuk melanjutkan pelajaran Matematika. Ketika pelajaran berlangsung, bisa dikatakan aku mirip orang gila, hanya senyum-senyum sendiri, bahkan sampai-sampai semua pikiranku kosong dan aku isi semua dengan Karlina.
Andai saat itu ada jin yang melintas, mungkin aku sudah kerasukan, namun aku ikhlas jika aku kerasukan cintanya Karlina. Aheuyyy deudeuhh. Memang betul, pacaran itu membuat semua yang tidak mungkin menjadi mungkin, apa yang tidak ada menjadi ada, dan yang tidak bisa menjadi bisa, itulah CINTA meskipun hanya satu kata tapi bisa merubah dunia.
Bisa dipastikan semua pelajaran yang diberikan Pak Amir, 100% tidak ada yang masuk ke otakku, bagaimana bisa fokus, jika yang terisi dalam ingatanku hanya Karlina, Karlina, dan Karlina. Aku bertekad untuk mengulang pelajaran matematika di rumah. Itulah contoh yang baik adik-adik, belajar itu harus selalu dilakukan tidak hanya disekolah, bahkan dirumahpun kita harus belajar, betul tidak?
Jam pulangpun akhirnya datang juga, aku mulai mengemas semua peralatan, akupun sesekali melihat Karlina yang sedang mengemas peralatan sekolahnya juga. Perasaan malu ini, tetap saja tak hilang-hilang, gugup, kecemasan, serta ketidak percaya dirian ini membuat aku takut mendekati Karlina. Yah, akhirnya aku mendekati Karlina dengan perasaan yang mengguncang kutub utara, Hi Karlina, kamu pulang sendiri atau dijemput? Aku dijemput bapak aku Jay, kalau kamu Jay pulang sendiri atau dengan siapa? Aku pulang sendiri, tadinya aku mau ajak kamu pulang bareng. Ya udah aku antar kamu ke depan,. Iya Jay hayu.
Sebenarnya ingin sekali aku mengantar Karlina pulang, namun saat itu keadaan belum memungkinkan untuk aku bisa jalan bersama Karlina, namun aku tak khawatir yang jelas saat ini diakan pacarku. Akhirnya ayahnya Karlina datang dengan menggunakan motor, sambil aku menatap Karlina, aku mengucapkan, hati-hati ya sayang?sungguh malu aku mengatakan hal itu, namun aku terkaget ketika Karlina mengucapkan kata-kata yang paling indah seumur hidupku, "ya sayang kamu juga y". Jikalau embun pagi dikenyot sapi, dan mawar merah di gendong bayi, bolehlah ku daki gunung tertinggi sambil ngesot pakai dasi. Ok, cukup kabuh lagi.
Namun tak seperti yang aku bayangkan, kegelisahan, kecupuan, serta rasa ketidakpercayaan diriku malah semakin tinggi. Entah kenapa perasaan ini datang lagi, aku tak ingin semuanya menjadi kacau gara-gara ulahku lagi, apa aku memang ditakdirkan untuk pergi mengejar kitab suci ke barat? Ah entahlah yang jelas hatiku menjadi carut marut kembali.
Setiap malam yang aku bayangkan adalah, perasaan malu, malu inilah, malu itulah, canggung inilah canggung itulah, semuanya bertambah gugup ketika memikirkan Karlina. Itulah yang selalu aku bayangkan, ketakutan ini membuat aku ingin sekali menjauhi Karlina, bukan karena aku tidak menyayangi Karlina, namun aku menjadi terlalu malu, gugup, grogi untuk mendekati Karlina. Padahal dalam hati ini, ingin sekali akau jalan bersamanya, memegang tangannya kembali, bahkan memeluknya. Rasa sayangku yang besar terhadap Karlina tak mampu mengalahakan kerasnya jubah robocop. Maksudnya mengalahkan rasa maluku, rasa gugupku akan kehadiran Karlina.
Esokpun tiba, hari kedua dimana aku dan Karlina merajut kasih. Namun semuanya tidak berjalan dengan lancar, pacaran indah yang aku harapkan, indahnya perisitiwa disaat kami melalui semua berdua, namun semua itu tidak terwujud, tidak lain dan tidak bukan karena seorang Jay yang masih cupu, dan pemalu. Memang aku mempunyai cinta yang luar biasa, menembak Karlinapun aku udah susah payah menyatakannya. Ternyata rintangan terbesar yang aku alami adalah bukan hanya saat akan menyatakan perasaan pada Karlina saja, namun setelah aku resmi berpacaran dengan Karlinapun perasaan malu ini tetap saja ada, malah semakin menjadi-jadi.
Hari itu, dari awal masuk sekolah hingga pulang, tak aku tanya sedikitpun Karlina. Aku merasa menyesal telah melakukan hal itu pada Karlina, namun bagaimana lagi aku sendiri bingung atas apa yang terjadi pada diriku, entah sampai kapan aku menjadi orang yang penuh dengan kecupuan, penuh rasa malu, atau kegugupan. Aku merindukan Karlina, sangat merindukan sekali.
Pada saat itu, HPatau Hand Phone mulai merebak seperti virus H5N1. Hp menjadi trend kala itu, hampir satu sekolah mempunyai hp, tak terkecuali karlina, mungkin bisa jadi untuk tranding topic saat itu ialah hp, mulai dari tukang beca, supir angkot, penjaga sekolah, bahkan petugas kebersihan sudah memiliki hp. Mungkin hanya aku saja yang belum mempunyai hp, bukan orang tuaku tak sanggup membelikannya untukku namun karena aku disarankan untuk fokus belajar terlebih dahulu.
Andai saat itu aku punya hp, mungkin saat ini aku bisa mengungkapkan perasaanku pada Karlina, tanpa harus mengucapkannya langsung. Andai saat itu aku punya hp, mungkin saat ini menara pisa di francis akan lurus. Tapi dulu belum ada namanya blackberry, yang bisa bbman, bukan bbm bahan bakar minyak, tapi blackberry mesengger. Andai dulu hp hitam putih bisa PING!!!PING!!!PING!!! Hatiku mungkin tak sepi lagi.
Andai dulu hp hitam putih bisa membuat PM, mungkin akan ada yang banyak meberikan komentar padaku. Dengan menggunakan emoticon yang unyu-unyu, pasti akan membuat hatiku tambah gembira. Andai dengan hp hitam putih bisa brodcast message, aku mungkin sudah banyak dilempar orang saat itu. hehehe
Haripun berlalu seperti biasa, sudah hampir satu bulan aku tak bertanya Karlina, aku lihat Karlinapun mulai bingung dengan keadaanku, dia mulai mencari tahu apa yang terjadi padaku. Melalui Eko, dia sering curcol mengenai perasaannya.
Sob, jangan berlaku seperti itu sama Karlina, kasian dia. Sebulan ini, Karlina sering cerita ma gue tentang hubungan kalian, apa yang sebenarnya terjadi. Lalu aku menjelaskan semuanya kepada Eko tentang apa yang aku rasakan. Aku ceritakan pada dia, bahwa aku mengalami gejala yang sama ketika gajah memangku semut, dan keledai mengendong paus. Serius nih sob, ungkap Eko. Iya sob, gue ngerasa tingkat kepercayaan diri gue semakin menurun drastis, ternyata cobaan terberat dalam mendekati wanita bukan saat mengungkapkan perasaan padanya saja, justru saat telah meilikinya. Aku semakin gugup, semakin malu, jangankan untuk mendekat berbicara saja seakan keselek paku.
Aku sangat mencintai Karlina, aku pula sangat menyayanginya. Tak ingin aku menyakitinya, aku begitu merindukan dia. Setiap malam, setiap hari aku selalu melihat dia, selalu memikirkannya, aku benar-benar rindu sekali dengannya . Padahal faktanya, aku tinggal dekati saja Karlina, tinggal aku berbincang dengannya, lalu aku mengatakan rindu yang selama ini aku pendam, atau bahkan bisa saja aku genggam tangannya. Namun itu tak semudah yang aku pikrikan.
Lantas Ekopun menceritakan semua yang aku ceritakan padanya Karlina. Entah apa reaksi Karlina saat itu, yang jelas aku takut, aku tak ingin menyakiti Karlina, namun harus aku akui kalau es durian itu enak, ditambah toping coklat yang enak, disiram susu kental manih makin lezat, semuanya pasti habis aku lahap. Kok jadi aneh gini ceritanya, mari kita bobo. Cerita lagi maksudnya, setalah Eko menceritakan semua pada Karlina, akhirny Eko menceritakan semua padaku. Sebenarnya aku tidak enak sama eko, meskipun Eko mirip kotak surat, namun seharusnya aku sendiri yang harus menyampaikan perasaan ini pada Karlina. Karena bagaimanapun ini masalahku, dan aku pacar Karlina.
Haduh sob, untung loe punya cewek yang bae, pengertian, sabar ngadepin loe, kurang apalagi coba dia. Mulai sekarang jangan cuekin Karlina lagi. Kasian dia, dia terus nanyain loe, gw tahu loe sangat menyanginya dia, tapi sayang doang gk cukup buat nunjukin kalau loe benar-benar butuh dia.
Thanks ko, mulai sekarang gue akan berusaha, gue mau berubah, gue akan lakuin semampu gue untuk tidak lagi gugup pada Karlina. Pernah suatu ketika, saat jam makan siang, aku melihat Karlina bersama Karin sedang akan pergi ke Kantin, dan disaat itupula aku sedang sendiri berjalan mendekati kelas, aku pikir saat itu aku akan berpapasan, dan aku berharap juga demikian. Namun apa yang terjadi, saat itu juga detak jantungku mulai seperti konser musik, kalau perlu pecahkan saja gelasnya biar ramai. Saat dimana ada titik persimpangan, maka tak sadar tubuh ini mebelokan arah ke arah yang lain menjauhi Karlina, haduh betapa bodohnya aku. Kapan lagi aku bisa menyapa Karlina, kapan lagi aku bisa melihat senyumnya dari dekat, namun semua itu menjadi hancur karena ulahku lagi. Aku sadar saat itu mungkin Karlina marah, cemberut, atau bahkan siap-siap gali lubang buat ngubur aku hidup-hidup.
Sudah aku putusakan, aku harus berubah. Mulai besok aku tidak akan mencuekan Karlina lagi, aku akan menjaganya, bukan menjauhinya, aku kan menggenggamnya bukan melepasnya. Tak terasa hari sudah pagi, kusiapkan semua keperluanku, hal yang membuat aku bahagia adalah, saat ini kepercayaan diriku tumbuh kembali. Mungkin ini sugesti pada diriku sendiri, kalau aku harus berubah, tak perlu malu jika kita mencintai seseorang, tak perlu malu untuk mengungkapkan perasaan, justru malulah ketika kita tidak mempunyai perasaan atau hati yang peka.
Tibalah aku disekolah tercinta, saat itu aku melihat Karlina sedang berbincang pada Karin. Aku melemparkan senyum terindahku pada Karlina, dan Karlinapun membalasnya dengan tebaran senyum yang paling indah pula. Kurasakan hari itu pasti akan indah, namun ternyata, kodok di sawah berkata lain.
Tiba-tiba Karlina mendekatiku, duduk disampingku. Sungguh aku bahgia sekali, bagaimana tidak, seseorang yang aku cintai mendekatiku, meberikan senyumnya."Apa kabar Jay?,Kamu sehat?". Oh iya Kar, aku baik, kalau kamu gimana?. "Aku juga baik Jay. Baik di luar, tapi tidak di dalam.", Karlina sambil meletakan tanganya di dadanya yang secara tidak langsung menunjuk ke hatinya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu Jay, aku cinta sama kamu, aku juga sayang sama kamu, aku tak tahu lagi harus sampai kapan aku menunggu kamu. Aku memang pacar kamu, tapi kenyataannya aku ini orang lain bagimu, hari-hari aku lalui dengan kekonyolan, memikirkan bahwa dengan bersamamu hariku jauh lebih baik. Namun kenyataannya, tidak ada bedanya sebelum aku pacaran, buat kamu aku ini antara ada dan tiada". Dengan tetesan air matanya, Karlina mengucapkan "Mulai sekarang kita berteman kembali, ya seperti dulu lagi, karena buat aku pacaran dan tidak, sama saja. Kita putus Jay."
"Aku memang salah salah sama kamu Karlina, aku juga banyak nyakitin kamu. Tapi jujur tidak ada niat aku untuk menyakiti kamu dengan mencuekan kamu. Sungguh aku juga mencintai kamu, menyayangi kamu. akupun tersiksa, tersiksa tak bisa mengutarakan semuanya padamu Karlina. Aku mohon, jangan tinggalkan aku, mulai sekarang kita coba lagi dari awal, aku akan berusaha untuk menjadi laki-laki yang pemberani, yang bisa menjaga kamu, ada disaat kamu butuhkan. atau apapun yang kamu mau".
"Tidak Jay, keputusan aku sudah bulat. Aku harap kamu bisa menerimanya, mulai sekarang LOE GUE END".
"Aku sadar, aku salah, aku terima jika itu yang kamu mau. Aku minta maaf atas semua luka yang sudah aku beri padamu, tapi percayalah aku sangat menyayangi kamu Karlina. Aku harap kamu bisa maafin aku, meskipun aku dan kamu sudah tak lagi bisa bersatu, setidaknya kita bisa berteman baik. Sekali lagi maafin aku."
"Iya Jay, maafin aku juga ya. Jikalau nanti kamu mencintai seseorang lagi, tolong jangan lakukan dia seperti aku. Sakit rasanya bisa dicintai seseorang, namun tak pernah dianggapnya ada."
Hari itu, yang tadinya akan menjadi hari bahagia sedunia, malah menjadi hari GALAU NASIONAL. Ingin rasanya aku menangis, namun aku tak bisa. Hatiku hancur, untuk kedua kalinya aku ditinggal pergi orang yang aku cintai. Hari itu seketika aku menjadi lemas, lesu, dan tak berdaya. Sampai-sampai aku ceritakan masalah ini pada Eko, namun Ekopun tak percaya.
Semuanya berakhir begitu saja, untuk kedua kalinya aku melakukan kebodohan yang sama. "Udah cuy, ikhlasin aja, biarkan dia pergi daripada terus-terusan nahan sakit dari loe". Ia ko, gue juga merasa bersalah banget, meskipun gue tak ada niat buat nyakitin dia, namun gue sadar gue udah nyakitin dia.
Sejak saat itu hatiku sangat galau, berhari-hari aku lalui sekolah tanpa semangat. Tiap hari aku hanya bisa melihat Karlina dari bangku kelas, aku selalu menyempatkan mencuri pandangan pada Karlina. Jujur aku masih mencintai Karlina. Namun aku liat, setelah putus dariku Karlina kembali bersinar, meskipun tak menerangi hatiku lagi, setidaknya sinar senyumnya bisa membuat aku bahagia.
Namun aku bahagia, untuk sekarang, aku tak pernah canggung lagi menyapa Karlina, kami selalu saling melempar senyum. Sungguh membuat aku berdebar-debar kembali. Aku sadar, aku tak mungkin kembali bersama dengan Karlina, aku tahu bagaimana perasaannya saat ini.
Akhirnya, sejak saat itu aku memutuskan untuk menjadi teman baik, bahkan bisa jadi sahabat baik. Selama satu tahun kami duduk di kelas 2, banyak hal pula yang aku lewati bersama Karlina, entah itu mengerjakan tugas kelompok, olahraga bersama, mengerjakan piket sekolah, semua kulalui bersama-sama. Saat itu aku sadar, sedikit demi sedikit perasaan ini telah mulai memudar.
Hari demi hari, hariku terasa ringan, mungkin karena sekarang aku dan Karlina sudah tak canggung-canggung lagi, meskipun kita sekarang hanya sebatas teman, namun itu semua sudah cukup bagiku. Aku sangat menikmati kondisiku sekarang ini, aku bisa leluasa berbincang dengannya, aku bisa leluasa menatap wajahnya, aku bisa leluasa memberikan senyum padanya. Ya semua itu terasa ringan sekali bagiku, tak ada kegalauan sedikitpun.
Tak terasa pula waktu berganti, satu tahun duduk di kelas dua pun akan segera berakhir. Saat itu siswa-siswa disibukan dengan pemilihan jurusan, bukan jurusan kampung rambutan atau grogol. Namun jurusan pelajaran yang akan dikhususkan, seperti IPA dan IPS. Saat itu aku sudah memiliki pilihan yang tepat, aku memilih IPA sebagai ilmu major yang akan aku tempuh. Karena aku sangat menyukai sekali program-program exact.
Namun untuk masuk kedalam program IPA, aku harus terlebih dahulu bersaing dengan teman-teman yang lain. Maklum saja peminat jurusan IPA sangat banyak. Jadi aku harus lulus seleksi terlebih dahulu untuk menempuh program IPA. Namun sayang sahabatku Eko, dia tidak mempunyai minat yang sama denganku, karena dia lebih memilih program IPS ketimbang IPA. Tak ada salahnya sih, semua siswa berhak menentukan pilihan, selama haji sulam belum naik haji untuk ke empat kali, dan selama cinta fitri belum sampai season 8, semua siswa berhak masuk program manapun.
Sob, apapun yang terjadi, kalaupun loe nanti masuk beneran masuk IPA, dan gue masuk IPS. Loe tetep sahabat gue, jaga silaturahmi kita ya. Itulah kata-kata Eko yang membuat hatiku sedih. Saat itu pula kami kembali berubah menjadi teletubis. BERPELUKAN!!!!
Apa aku berhasil masuk program yang aku inginkan?lantas apa yang terjadi padaku setelah itu??tunggu di part selanjutnya...

